Posted in Catatan Naylaa

Sholat bareng Imam nyok ~


Beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, memaksa ingatan saya kembali ke diskusi saya dengan mas rieza di hari kedua bulan ramadhan. Dan saya masih mengingat pertanyaan saya dan keluhan saya waktu itu. Saking to the point-nya, saya langsung bilang, “Mas, saya kok gemas ya kalau ada yang bacaan sholatnya ditartilkan, tapi tajwidnya salah. Kenapa beliaunya ndak mencoba memperbaiki bacaannya dulu? Jujur, saya jadi ndak khusyu’. Dan kebiasaan yang saya lakukan adalah langsung memperbaiki bacaan sholat beliau di dalam hati. Saya sempat merasa, di dalam sholat jama’ah ternyata banyak ujiannya juga ya.”

Mas rieza langsung tertawa sebelum kemudian berdiskusi dengan saya. “Itu kembali ke syarat pemilihan seseorang sebagai imam, nil”. Dan kemudian saya masih teringat petikan-petikan dalil dan fatwa yang beliau ucapkan kepada saya. Yang masih saya ingat dari yang hasil diskusi kami adalah, ada 5 syarat seseorang bisa menjadi imam, dan yang saya ingat adalah 3 (parahny ingatan saya). Untuk melengkapinya, saya tampilkan disini, dengan dilengkapi dari beberapa sumber. Monggo diseduh ~😀

550007_426502077440470_495684848_n

1. Orang Yang Paling Baik Bacaannya
Di antara syarat yang paling utama untuk menjadi imam dalam shalat berjama’ah adalah orang yang paling baik bacaannya. Sebagian besar ulama juga menafsirkan bahwa yang dimaksud disini adalah yang paling PAHAM tentang masalah agama, terutama dalam case ini adalah masalah sholat. Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

# Dari Abi Mas’ud Al-Anshari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Yang menjadi imam shalat bagi manusia adalah yang paling baik bacaan kitabullahnya. Bila mereka semua sama kemampuannya dalam membaca Al-Quran, maka yang paling banyak pengetahuannya terhadap sunnah” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari)

294326_2259656299366_1487187604_2447614_8316182_n

# Dari Abu Masna Al-Badri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Jama’ah di imami oleh yang lebih pandai membaca Kitab Allah. Jika sama-sama pandai dalam membaca Kitab Allah, maka oleh yang lebih alim tentang sunnah. Jika sama-sama pula, maka oleh yang lebih tua.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

2. Orang yang berilmu

Lalu syarat yang lainnya adalah yang paling paham dengan urusan agama. Minimal masalah shalat jamaah. Apa jadinya kalau seorang imam tidak menguasai fiqih shalat?

Syarat sah untuk menjadi imam adalah orang yang shalatnya sah. Kalau kita menilai shalat seseorang dan kita bilang shalatnya itu sah, maka kita boleh menjadi makmum di belakangnya.

Sebaliknya, kalau kita mengatakan bahwa shalat seseorang itu tidak sah, entah karena tidak lengkap syaratnya, atau rukunnya, atau karena telah terjadi sesuatu yang membatalkan shalatnya, maka kita pun tidak sah untuk menjadi makmum di belakangnya.

3. Orang Yang Paling Wara’
Wara’ disini adalah orang yang paling berhati-hati, ia mencoba menjaga dirinya agar tidak jatuh dalam masalah syubhat.

just_say_no_sticker-p217301451621411733q0ou_400

# Dari Abi Martsad Al-ghanawi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Rahasia diterimanya shalat kamu adalah yang jadi imam (seharusnya) ulama di antara kalian. Karena para ulama itu merupakan wakil kalian kepada Tuhan kalian.” (HR. At-Thabrani dan Al-Hakim).

# Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Jadikanlah orang-orang yang terpilih di antara kamu sebagai imam; karena mereka adalah orang-orang perantaraan kamu dengan Tuhanmu.” (HR. Ad-Daruqutni).

Yang dua lainnya mungkin bisa teman-teman cari dan diskusikan dengan yang lebih paham agama, misal ustad dan ustadzah. Jika tidak salah, berkaitan dengan imam yang dipilih adalah yang disukai oleh makmum, salah satunya.

Bagaimana jika yang lebih memenuhi kriteria di atas adalah orang yang masih muda? Tidak mengapa. Justru malah itu yang lebih baik.

muh thaha

#ingat imam cilik bernama Muhammad Thaha?🙂

Bacaan_Sholat_Imam_Muda_102519942_thumbnail

#Atau Fateeh Seferagic ?

Point yang kemudian saya garis bawahi disini dan menjadi topik bahasan saya dengan mas rieza adalah bagaimana jika diimami mereka yang kurang fasih bacaannya, dan kita belum tahu kadar keilmuannya? Karena kebiasaan yang saya lakukan adalah membetulkan dalam hati, atau kemudian memilih untuk shalat sendiri.

Jawaban mas rieza ini kemudian saya cross check bulan ramadhan lalu ke Ust Sarwat dan Ust Badrul, dan alhamdulillaah, jawabannya menentramkan hati saya😀

Kebanyakan ulama besar berpandangan bahwa jika imam salah membaca bacaan dan kesalahannya hingga MERUBAH arti atau makna dari bacaannya maka shalat yang dilakukan terhitung batal. Apalagi bila itu dilakukan imam dengan sengaja (tapi sepertinya kasus ini tidak ada deh, soalnya kok iseng banget ya -_-“). Pengecualian di kalangan Malikiyah jika kesalahan yang dilakukan dalam mengucap 1 huruf yang tertukar dengan huruf lain dengan bunyi sejenis.

Dan ada beberapa syaikh seperti Syaikh Musaid bin Basyir ‘Ali, Muhaddits dari Sudan yang menekankan tentang harus benarnya bacaan sholat, terutama bacaan Al Fatihah. Mengapa? Karena terkhusus Al Fatihah, ia merupakan salah satu rukun di setiap rakaat shalat (Lupa, yok dicari di panduan sholat ^^). Beliau juga menambahkan, shalat di belakang imam yang salah membaca al-Fatihah adalah sah kecuali kalau kesalahannya itu sampai merubah makna. Dan apabila sampai merubah makna maka tidak boleh shalat di belakangnya kecuali dalam kondisi dharurat. (#noted ya :D)

images

Apabila seseorang menjadi imam …, padahal di belakangnya ada orang-orang yang lebih utama daripadanya, maka semua mereka dalam kerendahan terus menerus.” (HR. Ahmad)

jadi, Tidak harus dengan tartil, tapi minimal membaikan bacaan dulu.

images (2)

Itulah kenapa ketika di kamar pun untuk shalat kami prioritaskan imam dengan kepahaman dan hafalan lebih banyak (dari sisi ilmunya). Mengingat bahwa shalat itu adalah tiang agama. Shalat adalah doa kita dan sarana ‘penyambung’ kita dengan Allaah. Jadi bukan masalah sungkan disungkani.

Nah, apa berarti bacaan saya sudah benar dengan menuliskan catatan seperti ini? Belum. Tapi minimal saya dan teman-teman di kamar yang belum memiliki hafalan dan kepahaman ilmu lebih banyak dari yang lain menjadi terpacu melihat yang lain lebih fasih dalam membaca. #Ayo semangat melanjutkan program ODOA (One Day One Ayat)

odoa1

Jadi, salah satu yang harus dipahamkan adalah mau tidaknya seseorang mengakui bahwa kepahamannya tentang ilmunya sedikit tidaknya. Kemudian melihat dan mengakui bahwa ada orang yang lebih baik dalam mengimami dirinya, dengan melihat pertimbangan-pertimbangan dan syarat sah memilih imam. Karena imam yang baik dan benar akan menjadikan shalat para makmumnya sah juga bukan? Menjadi sarana yang sangat baik jika ada pembahasan/kajian seperti ini.

Wallaahu’alam.

#btw ini ke lab ndak jadi nulis tesis malah nulis note ya😥

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

4 thoughts on “Sholat bareng Imam nyok ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s