Posted in Catatan Naylaa

Amanah itu Cermin Diri


Bermuamalah dengan banyak orang cukup membuat kita bisa melihat bagaimana sekeliling kita bersikap kepada kita dan bagaimana kita bersikap kepada mereka. Kita bisa melihat bagaimana karakter dan kepribadian seseorang ketika dihadapkan kepada sesuatu, terutama masalah amanah. Bagi saya pribadi hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang tersebut dapat (1) mengatur waktu, (2) menempatkan orang lain dalam menjalankan amanah di bawahnya, dan bagaimana (3) orang tersebut mampu menempatkan dirinya dalam amanah tersebut.

Yang pertama, dalam mengatur waktu kita bisa melihat apakah seseorang ketika diberikan amanah bisa menjalankan dengan tepat waktu dan sungguh-sungguh. Dia bisa memprioritaskan mana amanah yang perlu dikerjakan duluan, mana yang bisa dia handle selanjutnya, tanpa mengabaikan bahwa ada orang lain yang juga membutuhkan pekerjaan yang dia lakukan.

images Pernah di suatu waktu saya menghandle suatu acara seorang diri karena kekurangan orang dan orang lain sudah dilibatkan di bagian lain, dan sang ketua berjanji kembali “sebentar” setelah keluar untuk datang ke suatu event. Dan sebuah kata “sebentar” yang saya garis bawahi lagi karena ternyata sebentar itu lebih dari dua jam. Budaya yang benar-benar keterlaluan dan tanpa konfirmasi entah itu via sms atau telepon padahal acara akan berlangsung besok harinya. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika bukan kata “maaf” yang dikeluarkan tetapi kata-kata “excuse”, dan saya mengetahui bahwa ybs adalah orang yang paham akan islam dan pentingnya menghargai waktu. Sehingga, akhirnya keluarlah kata-kata saya yang dingin dan membuatnya diam tentang kekecewaan saya dan keteladanan dia. Afwan tapi itu harus segera diperbaiki.

menghargai-waktu-selamethariadi.com_

Gak jaman sekarang yang namanya jam karet dan molor. Apalagi jika yang melakukan itu adalah mereka yang notabene rutin mengkaji Islam. Tidakkah kita lupa surat al ashr? Demi masa, kebanyakan orang mengalami kerugian kecuali mereka yang mengerjakan amal kebaikan. Ya, demi masa, karena menghargai waktu adalah ciri mukmin sejati. Dan apa yang akan dilihat oleh orang lain (nonmuslim) ketika bermuamalah dengan kita sebagai orang muslim dan ternyata kita molor bin ngaret? Kesan apa yang akan terpampang di mereka? Dia akan menyimpulkan bahwa muslim itu orang yang suka molor dan tidak menghargai waktu. Padahal saya banyak melihat banyak orang nonmuslim bahkan yang atheis sangat menghargai waktu meski hanya 1 menit atau 1 detik. Bahkan mereka tidak segan-segan telepon untuk mengabarkan jika mereka datang terlambat.

1154_593554247351384_1612216562_n

Yang kedua adalah bagaimana orang tersebut mampu menempatkan orang lain bekerja menjalankan amanah di bawahmu. Ketika kita diberi amanah menjadi seorang penanggung jawab atau PJ suatu agenda akan sangat berat tantangannya karena orang lain akan menjadikan kita sebagai tumpuan harapan dan sumber segala jawaban dari pertanyaan mereka. Dan yang terkadang menjadi berat adalah dua hal, yaitu menunjuk orang yang tepat di posisi yang tepat sesuai dengan kapabilitas mereka dan menyampaikan amanah itu. Hal ini tidak bisa diremehkan karena memang mencari orang yang bisa dan mau itu tidak mudah. Dan terkadang kita harus menjadi teladan mereka tatkala tidak ada satupun orang yang mampu mengerjakannya dan yang meng-handle adalah orang yang baru tapi mau untuk belajar.

Dan yang terakhir adalah bagaimana orang tersebut mampu menempatkan diri di dalam amanah tersebut. Dan bagi saya pribadi hal ini yang paling penting. Fenomena yang saya lihat di lapangan (dan semoga saya terjauhkan dari hal ini) adalah bahwa seorang leader bersikap “tunjuk PJ”. Okelah, menunjuk PJ itu tidak masalah dan memang sebaiknya demikian. Tapi yang menjadi tanda tanya besar adalah sikap gak mau tahu tinggal beres yang penting apa-apa tanya ke PJ. Sikap ini yang bikin saya gemas di beberapa waktu saya pernah bekerjasama dalam tim dengan seseorang. Ybs mem-PJ-kan tapi hanya terima jadi tanpa mau terlibat “kerja keras” dan ketika hasil kerja bagus kemudian “show off” di depan publik. Saya sampai garuk-garuk kepala mikir saking gemasnya.

Semoga tidak menjadi sebuah ghibah tapi sebuah pembelajaran bersama yang bisa di ambil untuk melakukan perbaikan.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

2 thoughts on “Amanah itu Cermin Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s