Posted in Catatan Naylaa

Mendidik Generasi Qur’ani (_Refleksi Menyambut Ramadhan_)


Kaum Mukminin seharusnya merenungkan dalam-dalam betapa Al-Qur’an mempunyai pengaruh luar biasa terhadap masa depan dakwah. Dakwah Rasulullaah Shallahu alaihi wa sallam pernah menghasilkan generasi yang tidak pernah dikenal sebelumnya, yaitu generasi Shahabat. Generasi ini yang memiliki ciri atau karakter tersendiri, dan mempunyai pengaruh luar biasa dalam sejarah Islam. Meskipun selanjutnya, begitu banyak orang besar bermunculan menghiasi lembar demi lembar sejarah, tetap mereka tidak pernah bisa menyamai generasi para Shahabat.

Allah Azza Wa Jalla telah menjamin untuk memelihara ketinggian dakwah ini, dan mengajarkan bahwa dakwah ini terus berjalan dengan tidak adanya Rasulullaah. Semua ini tak lain merupakan buah dari dakwah Beliau selama 23 tahun, lalu dikekalkan-Nya agama ini sampai akhir zaman. Dakwah terus berjalan dengan penuh geloranya karena telah adanya Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang merupakan warisan kekal, sepanjang zaman dan sejarah manusia.

Mengapa generasi pertama ini mempunyai karakter yang khas dan tidak akan pernah bermunculan lagi sesudahnya? Tidak lain karena mereka berinteraksi langsung dengan Rasulullaah Shallahu alaihi wa sallam, dan menerima Al-Qur’an sebagai wahyu, kemudian mengamalkannya. Mereka mengambil Al-Qur’an sebagai sumber dan pedoman kehidupannya, dan meninggalkan sumber-sumber yang bathil buatan manusia. Al-Qur’an menjadi satu-satunya sumber kehidupan, ukuran, dan dasar berpikir mereka. Dialah penuntun yang diberikan Allah Azza wa Jalla secara sempurna, dan terus menuntun manusia hingga hari ini.

“Sewaktu Aisyah RA, ditanya tentang budi-pekerti Rasulullaah, ia berkata : “Budi pekertinya adalah Al-Qur’an”. (HR. Muslim)

Apakah ketika itu tidak ada ideologi atau pun peradaban yang masuk di kalangan kaum muslimin? Jawabannya ADA. Kala itu bahkan peradaban Romawi dan Yunani, ilmu pengetahuan, dan hukum Romawi menjadi ciri atau ideologi Eropa.

Mengapa generasi pertama dakwah ini, membatasi diri, dan tidak mau menerima berbagai peradaban dan pemikiran yang ada waktu, dan sudah sangat maju? Tidak lain karena Rasulullaah ingin membentuk sebuah generasi baru, yaitu “Generasi Qur’ani”. Generasi ini hidup dibawah naungan Al-Qur’an, tidak terkontaminasi peradaban Romawi, Yunani, atau pun peradaban lain. Rasulullaah dikala itu hanya membatasi para Shahabat dengan Al-Qur’an, dan nilai-nilai kemuliaan yang ada di dalamnya.

Rasulullaah dalam periode ‘pembentukan’, tidak memberikan kesempatan kepada para Shahabat mereguk nilai-nilai diluar Al-Qur’an, dan para Shahabat pun taat mengamalkannya dengan penuh keimanan. Karena itu, generasi pertama yang dibentuk dan mendapatkan tarbiyah dari Rasulullaah merupakan generasi paling mulia, yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai ‘asy-syabiquna awwalun’ (mereka yang pernah istijabah menerima Al-Qur’an). Generasi inilah yang kemudian berupaya menyebarkan Islam ke seluruh Mekkah dari berhala-berhala, hingga ke seluruh dunia. Inilah bentuk kemenangan para generasi Qur’ani, yang hidup dibawah naungan Al-Qur’an, mendasari kehidupan dengan Al-Qur’an, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai minhajul hayah. Kemenangan generasi Shahabat melawan kejahiliyahan, menandakan adanya era baru dalam kehidupan ummat manusia. Al-Qur’an telah menciptakan sebuah kehidupan baru bagi bangsa-bangsa di dunia. Inilah warisan dari generasi Qur’ani yang langsung dididik oleh Rasulullaah yang sudah dijamin kepastiannya akan membawa kebaikan bagi ummat manusia. Sekarang, semua kembali kepada kita. Memilih kembali kepada Al Qur’an atau yang lain?

**
Lewat Al-Qur’an,
Allah membimbing kita memahamiNya

Kisah-kisah menjadi teladan
Hukum-hukum menjadi pedoman
Kebenaran diabadikan
Kebatilan dimusnahkan

Tak pernah ada kitab
Yang lebih banyak dihafal dan dipelajari
selain Al-Qur’an

Tak pernah ada lsi kitab
Yang lebih terjaga keasliannya,
Begitu lndah bahasanya,
Teramat dalam kandungan maknanya
selain lsi Al-Qur’an

Tak pernah ada kitab
Yang lebih sering dibaca
Dari anak-anak sampai orang tua
Di dalam mushola sampai di sela-sela kuliah
Menjelang akad nikah sampai menjelang tutup usia
selain Al-Qur’an

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

One thought on “Mendidik Generasi Qur’ani (_Refleksi Menyambut Ramadhan_)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s