Posted in Catatan Naylaa

Paper dan Riset


Lagi-lagi. Tulisan kali ini didasarkan rasa gemas dan tergelitik yang ndak berhenti-henti. >.<

Saya teringat beberapa waktu lalu diminta untuk membantu salah satu event disini dan secara mendadak dimasukan ke dalam suatu tim. Sebut saja tim paper. Apa saja jobnya? Apakah mereview? Oo, belum. Belum sampai ke tahap itu karena reviewer yang valid minimal haruslah mereka yang mengecap pendidikan PhD bahkan professor. Saya masuk 1 dari banyak teman2 disini yang sedang mengecap pendidikan master sehingga sedikit demi sedikit semakin bertambah “tuntutan” jumlah paper yang harus kami baca. Terlepas itu untuk urusan tugas, atau pun untuk mendukung riset yang sedang kami tempuh.

Nah kembali kepada jobdesc, tugas kami sebenarnya sederhana tapi butuh kesabaran dan ketabahan. Menghubungi semua reviewer untuk melakukan review paper, mengkontrol jalannya paper yang sudah di review, meng-oprak-oprak para penulis untuk menyerahkan versi cetak paper yang sudah benar-benar ready, membuat buku paper dan proceeding. Saya agak kebingungan ketika para reviewer ada yang memberikan hasil review terlambat. Saya masih gemas kenapa bisa terjadi.

Sampai ketika masuk giliran saya dan salah 1 teman saya, mbak laily, membuat desain buku paper, memformat, merapikan dan sebagainya, saya kemudian menjadi tahu kenapa paper-paper lama dikembalikan. Saya melihat adanya perbedaan sangat drastis antara paper yang satu dengan yang lain. Jika pun itu sudah dipilah menjadi beberapa cluster, masih saja muncul gap para penulis dari universitas mana saja yang benar-benar memiliki kualitas yang bagus dalam menulis paper. Saya acungi jempol untuk beberapa universitas dari Indonesia seperti UI, UGM, ITS, UNAIR yang benar-benar rapi, cerdas, dan piawai dalam merangkai kata (berdasarkan cluster yang saya seleksi). Dan bagi saya pribadi menurut sudut pandang kacamata awam seperti saya ini, saya mencoba memetakan dengan istilah mana paper yang berkualitas dan mana yang “perlu ditingkatkan lagi”.

peneliti muda

Nakalnya lagi, otak saya selanjutnya mencoba membuat simpul antara kejadian ini dengan fenomena yang saya baca di salah satu link yang saya buka 2 minggu lalu. Link tersebut menyatakan bahwa universitas di indonesia berada di luar 100 besar universitas terbaik di tingkat Asia. Bahkan, kampus saya di Taiwan ini saja naik jauh peringkatnya jika berdasarkan tahun-tahun berikutnya. Apakah ada benang merah dengan salah satu case ini? Pikiran itu yang kadang terbesit di benak saya.

Nah, kembali kepada pembahasan sebelumnya. Ada beberapa hal yang perlu disoroti disini, dan sebenarnya saya sendiri ketika di bachelor memperoleh pengetahuan itu secara tidak langsung, ketika menyusun buku tugas akhir, yang saya yakini formatnya tidak jauh berbeda dari paper. Berikut yang saya cermati dari beberapa cluster yang saya pegang dan berdasarkan kepahaman orang awam seperti saya:

  1. Dari pembuatan abstrak, pastikan hanya menulis 1 paragraf saja, berbobot, dan sudah mencakup hingga metodologi, hasil, serta kesimpulan. Yang perlu digaris bawahi adalah, membuat abstrak itu bukan berarti mengkopi paste dari latar belakang di paper yang kita buat.
  2. Pastikan bahwa kita mem-purpose penelitian yang memberi manfaat, kalau bisa yang ada nilai novelty nya. Jikapun ingin membuat sejenis review paper, pastikan dengan benar bahwa tidak ada satupun catatan kaki yang terlewat untuk menghindari plagiarisme.

    Hal ini berlaku untuk tulisan, rumus, hingga gambar atau pun tabel milik orang lain.

no plagiarism

  1. Ketika ingin menghasilkan sebuah penelitian yang baik, tentunya kita butuh sumber data dan fakta yang cukup banyak dan valid bukan? Saya melihat ada yang mencantumkan hanya 1 referensi saja dan itu dari buku pegangan yang usianya sebelum tahun 2000. Saya rasa akan sangat lebih baik jika memanfaatkan berbagai referensi jurnal yang ada. Jika dulu saya mendapatkan nasihat dari dosen wali, minimal kasus terburuk adalah saya memperoleh 5 paper pendukung tugas akhir saya dari jurnal internasional dan itu memang sudah standart di kalangan akademisi.
  2. Jika menggunakan referensi dari paper, pastikan keterbaruan dari paper tersebut. Profesor Arif Junaidy, salah satu profesor di jurusan saya di ITS menyatakan minimal rujukan penelitian orang yang kita gunakan maksimal lima tahun ke belakang. Hal ini untuk menghindari orang lain mem-purpose penelitian yang sama dengan kita.
  3. Pastikan bahwa kita memiliki seorang supervisor ketika menulis paper. Saya melihat banyak sekali peserta yang mencantumkan nama sendiri. Sangat luar biasa sekali. Hanya saja saya masih melihat perbedaan dari segi kualitas tulisan, baik dari segi pemaparan ide dan pendetailan yang lebih baik jika ada supervisor. Ya, karena memang supervisor inilah yang lebih sering melakukan penelitian daripada kita terkadang.

Anyway, meskipun banyak yang perlu diperbaiki, saya sangat mengapresiasi sekali semangat mereka yang suka menuliskan ide-ide mereka di kertas dan meneliti. Tidak banyak yang suka dengan itu karena budaya membaca dan menulis di kalangan remaja mulai pudar. Saya berharap kedepannya semakin banyak para peneliti muda yang tidak takut malu menulis ide-ide gemilangnya dan tak takut dikritik akan tulisannya.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

5 thoughts on “Paper dan Riset

  1. Nice…
    ada 1 pertanyaan.

    “minimal rujukan penelitian orang yang kita gunakan maksimal lima tahun ke belakang”. maksudnya bagaimana? masih ambigue sarannya..

    misal saya buat research tahun 2013… apakah rujukan saya itu harus tahun 2003, 2004, 2005,2006,2007???
    ataukah rujukan saya tahun 2008,2009,1010,2011,dan 2012?

    mohon pencerahannya, trims.

    1. yup. exactly.
      dengan pertimbangan bahwa jika berada dalam range tahun tersebut akan lebih valid (terbaru) datanya. kebanyakan paper lama sudah di citasi orang lain sehingga kemungkinan sudah banyak pengembangan yang dilakukan orang lain terhadap paper tersebut.
      kcuali mungkin paper yang dia buat adalah original research dan topiknya susaah sekali dan belum banyak dibahas orang dalam range waktu dekat, sehingga untuk dipake jangka waktu lama sebagai rujukan saya rasa ndak masalah spertinya.
      eh, njenengan nyambung maksud nya kah? CMIIW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s