Posted in Catatan Naylaa

Memakna Sebuah Kecantikan


Sebenarnya, tulisan ini muncul karena selentingan di hati saya. Terpendam sejak lama, hanya saja baru kali ini sempat saya tuliskan. #maafkan >.<

Sudah sejak lama saya kagum dengan teman2 puteri yang mengenakan kerudung. Anggun, cantik, dan sholehah karena memang itulah yang sesuai dengan fitroh seorang wanita. Begitulah hingga media massa pun sepakat bersama-sama menjadikan gaya muslimah sebagai salah satu mode masa kini. Dirancanglah berbagai jenis pakaian untuk semakin menguatkan pesona wanita. Merambah dari pakaian, hingga ke kerudung. Saya memberi apresiasi karena secara tidak langsung pemberitaan dari media massa tersebut turut memberikan pemanis tersendiri untuk menambahkan kepercayaan diri mereka yang sebelumnya tidak berkerudung untuk kemudian berkerudung.

hijab

 

Yah, minimal tidak kalah semangat dengan adik2 di bawah ini lah ^^

269656_586248394726260_163216485_n

Seiring cepatnya waktu berjalan, banyak hal yang kemudian terjadi. Gaya mode muslimah menjadi semakin modis, dengan dihiasi berbagai make up penghias pipi. Saya bisa melihat banyak yang merubah gaya berpakaian dan menggunakan aneka make up mulai dari eyeliner, foundation, lipstik, dan sebagainya. Dan fitroh perempuan yang memang cantik dan sebaik-bentuk pun menjadi lebih cantik. Belum lagi dari gaya berpakaian dan berkerudung penuh aneka gaya.

Aquila-Style_HijabFest2012_Dian-Pelangi

A: Cantikkah wanita tanpa make up?
B: Ya, cantik.
A: Perlukah menambah kecantikan itu dengan hiasan make up?
B: ….

Wanita itu tanpa make up pun sudah cantik kok. Ya, cantik alami.

A: untuk siapakah kecantikan itu diulas dengan make up?
B: ….

Saya belum menemukan jawaban itu hingga suatu waktu saya menelusur kembali ingatan saya akan ucapan teman saya. “Dek, jika seorang perempuan berhias cantik di luar sementara dia belum menikah, maka untuk siapa memangnya dia berhias? Sudah jelas bukan.”
#JLEB 1

Salah satu teman saya putera dulu di BEM juga pernah bilang, “perempuan itu sudah dari sono nya cantik, dipandang dari sisi manapun. Kita yang cowok heran, kenapa masih d kasih make up bahkan sampai ada yang menor ya? Iya kalau hatinya baik, kalau ternyata jahat dan pelitnya minta ampun? Lewat saja.”
#JLEB 2

Episode lain perjalanan saya juga turut menambahkan deretan JLEB yang lain. Saya masih ingat ketika itu wajah saya d permak oleh teman di kos saya. Dia gemas karena menurutnya dandanan saya terlalu simple (#ketawa dalam hati), make up cuma pake krim sejenis sunblock dan bedak. Baru kali ini saya merasa ada yang protes, soalnya teman-teman lain tidak ada yang pernah protes. #kaget. Akhirnya ketika itu saya biarkan saja di mengutek-utek saya selama tidak untuk di bawa keluar rumah. Saya didandani dengan yang namanya eyeliner, lipstik dan sebagainya. Dan keesokan harinya, saya lupa bahwa saya hanya menghapus bedak dan tidak menghapus yang lain. Ketika saya bertemu dengan salah seorang teman saya d kampus, satu kalimat yang sangat saya ingat darinya adalah, “kamu berjilbab dan berdandan untuk Allah atau untuk siapa??”. Langsung saya merasa jleb2 dan menangis meskipun niat awal saya bukan untuk berdandan.

Yah, penting sekali untuk menelusuri kembali definisi cantik versi kita masing-masing. Cantik yang seperti apakah yang kita maksud? Benar-benar untuk diri kitakah kita menghias diri? Untuk Allaah? Atau untuk orang lain?

Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan semua bentuk tubuh dan wajah manusia.
Wanita adalah aurat, dan apabila ia keluar dari rumahnya maka setan akan menghiasinya, dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafaz ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

hijab-muslim-women-jihad

Dan mungkin terkadang tanpa kita sadari, yang sepertinya memang tabiat kita sebagai kaum wanita untuk cenderung bersolek diri dan berlama-lama di depan cermin. Dan ketika di depan cermin itulah tak sadar setan membisikkan diri kita dengan mengatakan jilbab besar buruk membuat kita nampak gemuk, coba pakailah jilbab yang cerah berwarna dan pendek agar bahu terlihat ramping. Mungkin juga kita melihat pada warna kulit kita yang sawo matang sehingga saat memandang ke cermin, rasanya saya kita tidak cocok memakai warna terang. Akhirnya kita sibuk mengganti, menyesali warna kulit kita, dan mencoba mem-match-kan warna apa yang sesuai dengan kita. Ibarat looping dalam dunia programming, syaitan akan senantiasa membisikkan hal tersebut sehingga terbesit pikiran tidak percaya diri terhadap penampilan kita yang syar’i.

Maka, cara sederhana yang bisa menghentikan aktivitas looping yang dilakukan oleh syaitan tersebut adalah dengan memberikan “batasan” terhadap looping itu. Salah satunya adalah dengan menghindari berlama-lama di depan cermin dan bersyukurlah pada Allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan kita dengan sebaik-baik bentuk.

6976742223_940cc09952_z

Ya. Sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah, yang terlihat dari ibadah dan akhlaknya bukan, tidak akan nampak dari cermin di manapun sang wanita berada. Itulah hasil pemahaman dari saya sebagai mahasiswa S2 awam dan yang biasa-biasa saja. Maafkan jika ada salah dalam memaknai. Ayuk kita berdiskusi🙂

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

One thought on “Memakna Sebuah Kecantikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s