Posted in Mengambil Teladan

Belajar Memahami Karakter Pemimpin [1]: Al Quwwah


Allah SWT telah menjelaskan kepada kita bagaimana pemimpin yang baik itu, melalui beberapa contoh kepemimpinan yang Allah ketengahkan dalam kitab-Nya, Al-Qur’an.

Dalam QS Al-Qashash: 26, Allah SWT berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (al-qawiyy) lagi dapat dipercaya (al-amin)“.

Dalam ayat tersebut, Musa as disifati memiliki dua sifat yaitu al-qawiyy (kuat) dan al-amin (bisa dipercaya).Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-quwwah yang bermakna kapabilitas, kemampuan, kecakapan, dan al-amanah yang bermakna integritas, kredibilitas, moralitas.

1. Al Quwwah
Al-Quwwah adalah sifat yang harus dimiliki seorang pejuang Aqidah. Dengan kekuatan da’wahnya dapat terlindungi dan bersama kekuatan, ia bergerak dijalan al-Haqdan al-Khair. Dengan kekuatan seorang pejuang Aqidah dapat mempertahankan diri dan membikin gentar musuh-musuhnya. Tetapi, kekuatan ini, oleh seorang pejuang Aqidah tidak akan digunakan untuk permusuhan dan merusak bumi.

Dalam kaitan ini Allah berfirman:
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya ; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. al-Anfal: 60)

Dengan kekuatan prima seorang pejuang Aqidah mengarungi lautan perjuangan dan menguak jalannya tanpa takut gentar dan ragu-ragu. Rasulullah SAW bersabda:
Mu’min yang kuat lebih lebih dicintai Allaah daripada pada Mu’min yang lemah.” Sebuah pengingat yang sangat menghujam bagi saya pribadi.

Seorang pejuang Aqidah tidak akan mengenal arti lemah. Setiap cobaan dan tantangan akan semakin memperkukuh tekad, keimanan, kekuatan dan kepercayaan pada dirinyaAllah berfirman:
Yaitu orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan,”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,”maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah yang menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”(QS.Ali Imran 73)

Pejuang Aqidah adalah manusia yang kuat fisik dan mentalnya, yang tidak tergoyahkan oleh berbagai krisis.Ia kuat dengan kekuatan Allah, kaya dengan kekayaan-Nya, mampu dengan qudrat-Nya, dan besar dengan keagungan-Nya.

Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan ketika ia memegang amanah kepemimpinan. Kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Rasulullah Saw pernah menolak permintaan dari Abu Dzar al-Ghifariy yang menginginkan sebuah kekuasaan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa (amil)?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah.

Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.”Yang dimaksud dengan kekuatan di sini adalah kekuatan ‘aqliyyah dan nafsiyyah. Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan akal yang menjadikan dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan akal sehat dan syari’at Islam. Seorang yang lemah akalnya, pasti tidak akan mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya. Lebih dari itu, ia akan kesulitan untuk memutuskan perkara-perkara pelik yang harus segera diambil tindakan. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu menelorkan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana yang mampu melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, pemimpin yang lemah akalnya, sedikit banyak pasti akan merugikan dan menyesatkan rakyatnya.

Selain harus memiliki kekuataan ‘aqliyyah, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan nafsiyyah (kejiwaan). Kejiwaan yang kuat akan mencegah seorang pemimpin dari tindakan tergesa-gesa, sikap emosional, dan tidak sabar. Seorang pemimpin yang lemah kejiwaannya, cenderung akan mudah mengeluh, gampang emosi, serampangan dan gegabah dalam mengambil tindakan. Pemimpin seperti ini tentunya akan semakin menyusahkan rakyat yang dipimpinnya.

Dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah, “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. [HR. Muslim]

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s