Posted in Catatan Naylaa, Memoar Perjalanan, Taipei Caleidoscope

Memorial Event


Bismillaah. Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang tempat-tempat dan beberapa event yang saya kunjungi selama beberapa minggu awal di taipei. Semoga bisa diambil hikmahnya🙂.

1.       Pingxi Lentern Festival

Taipei mempunyai kebiasaan yang unik di setiap menyambut imlek. Di tahun ular inilah ada mereka berkumpul di pingxi untuk menyalakan lentern bersama-sama. Masing-masing bisa menuliskan wish mereka di lentera bersama-sama, kemudian menerbangkannya secara bersamaan. Akan tetapi, jumlah untuk spot utama penerbangan sangat terbatas. Untuk mereka yang ingin menerbangkan sendiri bisa menerbangkan sebelum acara utama dimulai dan di spot luar lapangan utama.

404781_4346530342931_576873688_n

Oya, ketika menuliskan wish mereka ada satu hal yang harus dipahami. Wish yang ditulis harus dituliskan dalam bahasa cina/taiwan. Kenapa? Setelah saya tanyakan ke penduduk asli itu karena mereka meyakini dewa mereka tidak akan bisa membaca tulisan dalam bahasa selain itu. Wah, saya bersyukur Tuhan saya bisa memahami doa semua hambaNya dari berbagai suku, bahasa dan budaya🙂.

558131_4346524102775_941791848_n

Sayangnya karena bertepatan dengan tanggal yang dibilang orang sebagai hari Vdays, banyak yang datang adalah pasangan sehingga untuk berangkat dan pulang harus memakan waktu masing-masing 1,5 sampai 2 jam.

521409_10200758165939603_2074836107_n

 

[photo by Kiswah🙂 ]

2.       228 Memorial Museum Taipei

Pada 1 Maret 2013 kemarin, saya bersama teman-teman sekamar saya bersama-sama menuju ke Museum 228. Nah kenapa tanggal 1? Tanggal 1 merupakan hari nasional bagi warga taiwan untuk memperingati kepahlawanan mereka. Museum 228 merupakan salah satu tempat untuk memperingati perjuangan 228 orang yang terbunuh ketika masa penjajahan kulit putih, Jepang. Parahnya jika saya baca, awalnya mereka tidak diakui. Dan pemerintah baru mengakui keberadaan mereka setelah berpuluh tahun lamanya.

601404_243888729081759_257748979_n

Di museum ini ada banyak sekali benda peninggalan di masa itu, seperti baju, senjata, foto-foto mereka, hingga buku dan lukisan yang menggambarkan kisah dimasa itu. Yang bagus dari museum ini adalah penataan museum yang menyebabkan orang nyaman, serta dukungan sarana sehingga masyarakat bisa mengetahui baik secara visual maupun audio dari kisah mereka karena pihak museum menyediakan layar touch screen yang menampilkan ilustrasi. Layar ini ada di setiap sisi dari museum. Inilah yang menyebabkan orang disini senang untuk datang karena budaya ingin tahu mereka cukup tinggi. Nah, mungkin penataan yang menarik dan lebih interaktif bisa menjadi rekomendasi bagi museum-museum dan tempat lain di Indonesia agar lebih menarik curiosity dari masyarakat sekitar.

Disamping rasa curiosity yang ditunjang penyajian sarana yang memadai, ada satu poin yang bisa kita lihat. Dukungan sistem dan masyarakat yang baik juga menjadi penyebab utama. Sistem yang menyajikan adanya hari libur misalnya menjadikan mereka mempunyai kesempatan untuk mengunjungi daerah atau perayaan tertentu di suatu daerah. Dan satu lagi, adanya penanaman nilai-nilai kebanggaan dan kepemilikan menjadikan masyarakat care terhadap semuanya.

Berdasarkan apa yang saya sebutkan, bukan berarti bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki rasa itu. Hanya saja, masih sedikit. Padahal hitungannya luas wilayah Taiwan itu ibarat Jawa Timur ditambah dengan separuh Jawa Tengah. Lebih sedikit bukan? Dan berarti Indonesia lebih kaya. Hanya saja, tidak semua masyarakat Indonesia tahu kekayaan yang ada di negaranya. Ketika saya berdiskusi dengan teteh minggu lalu, saya jadi menyadari bahwa mereka yang kemudian bersekolah di luar negeri kemudian akan mensyukuri sekali kekayaan indonesia, dan memperkenalkan kekayaan yang ada di Indonesia di Taiwan. Salah satunya seperti event ICE (Indonesia Culture Exhibition) dari teman-teman NTUST ini yang Insya Allaah akan diadakan di bulan Maret ini. Tidak lain adalah karena mereka merasa, yes, I love Indonesia’s culture.

Berdiskusi lebih jauh lagi, saya mendapati masih sedikit tempat pendidikan di Indonesia yang mengajarkan pengenalan budayanya. Jika ada pun masih sebatas pada  memasukan kurikulum pada matapelajaran KWN atau PKN. So, They only know a little, guys. Saya mengapresiasi pendidikan tinggi seperti ITB yang ternyata memiliki event tahunan untuk memperkenalkan kekayaan daerah masing-masing. Ibarat UKM, mereka memperkenalkan masing-masing tarian atau lagu dari daerahnya di Sabuga. Dan penyajiannya pun luar biasa bagus, dan berbobot. Sebagai contoh kesenian ludruk. Kita mungkin mengenal ludruk sebagai khas gojekan daerah Indonesia, tapi yang di tampilkan tidak seperti itu. Berbobot karena berisi muatan sosial, ekonomi, politik, dsb. Keren bukan? Itu bukti penghargaan kita terhadap budaya sehingga tidak terkesan hanya sebuah tradisi. Ada pula dari teman-teman paguyuban minang yang menyajikan tarian dan lagu serta diiringi drama kisah khas mereka. Tak heran jika setiap kali digelar event ini, tiket langsung terjual habis meskipun sudah dibagi menjadi 4x penjualan kloter.

Kembali lagi, saya juga mengapresiasi kepada teman-teman ITS. Kemarin lewat BEM mereka menginisiasi adanya Hari Budaya. Pada hari itu ditampilkan berbagai alat musik daerah, tarian, lagu, hingga stan yang memperkenalkan dan menjual makanan serta marchindise daerah mereka. Sebagai awalan tidak menjadi masalah. Tinggal bagaimana acara seperti ini bisa sustain dan mengedukasi masyarakat sekitar yang perlu di tingkatkan lagi.

3.       Another Lentern Festival

Apa bedanya dengan festival lentera atau lampion yang ada sebelumnya? Nah, tempat dari perayaan ini berbeda, selain itu penyajiaannya pun berbeda. Bisa dibilang ini adalah salah satu bagian dari festival pasca imlek mereka pula. Untuk penyajian acara tidak ada sesi menerbangkan lampion lagi. Masyarakat tinggal mengunjungi sebuah taman yang di set berisi aneka lampion. Baik itu untuk anak-anak (karena menyajikan aneka lampion seperti angry bird, sponge bob, dan sejenisnya), serta untuk dewasa.

Yang saya takjub dari perayaan ini adalah bagaimana mereka bisa membuat sebuah event yang menarik sekali. Jika hanya diidentikan dengan banyak lampu, tidak bisa seperti itu ternyata. Mereka juga menampilkan sebuah animasi namun dalam bentuk hologram yang saya masih bingung bagaimana mereka menampilkannya dalam lebih dari 4 sudut. Animasi inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana sejarah dari perayaan imlek.

Setelah mengunjungi perayaan-perayaan khusus yang ada di Taiwan, ada satu hal positif yang bisa diambil. Masyarakat di Taiwan sangat menghargai sekali nilai-nilai budaya yang ada di negaranya. Hal ini terbukti banyak sekali yang berpartisipasi dalam event-event, sehingga ketika pertama kali datang ke tiap event saya selalu berpikir, “masyarakat taiwan kalau ada event seperti pindah ke 1 tempat bersama-sama”.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

15 thoughts on “Memorial Event

      1. Salah satu penglamanku yg paling gak konsisten yah menulis pengalaman. dulu menulis 1 hari 1 tulisan, berthan paling lama cuma 2 minggu. Aku lihat mbak nila rajin nulis. Semoga istiqomah menshare kan ilmu lewat tulisan.

      2. menjadwalkan 1 hari 1 tulisan bagus juga sih mas. nila pernah gt jg, tp lama2 terbengkalai juga. kadang yang membuat kita jadi susah menulis juga karena kita beranggapan bahwa tulisan kita HARUS bagus dan beda. padahal, kadang pengalaman kecil d kehidupan sehari2 pun bisa bermanfaat buat orang lain.

    1. ups. foto yang lantern bulet2 ya? waduh nila lupa ngasi note siapa tukang fotonya.. maaf >.<

      hehe, coba baca bukunya Ibnu Qayyim al Jauzi yang judulnya Shaid al Kathir. baca poin alasan beliau menulis buku itu. nila terinspirasi dari sana🙂

      1. ahahaha… becanda kok non. Hak cipta dan hak milik kan cuman milik Allaah :3

        wew, baru denger buku itu. ok, I am not a -that too- book lover, I admit it. ceritain aja, non :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s