Posted in Catatan Naylaa, Memoar Perjalanan, My Campus My New Day

My New Lab, My New Life. Welcome!


Setelah dengan pertimbangan panjang dan meminta doa kepada semua rekan dan hingga ke belahan negara lain, dengan mengucap bismillaah saya “meminang” profesor C. Ou-Yang. Saya pun berikhtiar membaca paper beliau, membuat riset proposal, dan membuat jurnal, saya menghadap ke ruang beliau. Dan pinangan saya akan judul riset pun terbalas. Meski dengan sebuah penolakan, tapi saya mendapat gambaran dan balasan yang jelas. Riset yang saya ajukan tentang Knowledge Management itu dinilai memiliki novelty tinggi. Namun, agak susah untuk diimplementasikan dan data yang saya bawa di Indonesia masih kurang. Jika saya mensurvei di Taiwan, not all of the people use English. Dan, untuk diselesaikan selama 1 tahun riset saya itu sulit. Akhirnya saya mendapat tawaran untuk belajar hal baru. Jika bagi teman-teman lain yang basicnya Teknik Industri mungkin mereka tidak akan mengalami kendala gap banyak untuk memahami basic konsep. Jadi, saya mempelajari hal yang benar-benar baru bagi saya meskipun itu berbau datamining. Parahnya lagi, jujur saya tidak suka datamining karena tidak suka dosen yang mengajarnya dulu :v. So, belajar lagi dari awal😀.

Bersyukurnya saya kembali, prof Ou-Yang adalah prof yang sangat baik dan sabar. Beliau tidak membebani saya dengan lab meet every week seperti yang ada di lab yang lain. IMHO, beliau ini mirip tipenya dengan advisor saya di bachelor degree. Ramah, baik, pengayom🙂

prof

[prof saya ^^v]

Saya diminta untuk mempelajari riset teman-teman di lab. Mungkin simple kedengarannya, tapi setelah ditelusuri rasanya cling cling cling di otak. Riset ini kebanyakan menggunakan metode hybrid, melakukan komparasi, hingga membuat teori baru, meski itu tataran master.. Wow. Untuk 1 topik riset saya harus melakukan konfirmasi untuk metodologi dan permasalahan berulang kali karena istilah yang unfamiliar. Belum lagi jika di mix dengan metode hybrid yang dilakukan. Ibarat memasak, menambah metode ini, memix metode ini itu ibarat mencampuradukan masakan. Sangat gampang sekali kelihatannya jika membaca papernya. Tapi jika melihat kodingnya, luar biasa. Saya diam membisu -_-.

Saya bersyukur prof tidak menuntut banyak requirement mahasiswanya sehingga menjalani aktivitas di lab pun tidak ada tekanan seperti di lab lain. Beliau juga sangat baik sekali mengantarkan saya ke lab, memesankan dan menuliskan form untuk kunci lab karena saya tidak bisa bahasa negara ini #writingnya tingkat dewa sekali.

Saya mengucapkan terima kasih sekali kepada rekan-rekan lab yang juga membantu saya menemukan kenyamanan di lab. Merekalah yang membantu saya belajar disana. Mbak Inggi, Mas Takim, Bu Yos yang sedang mengambil S3, dan baru-baru ini saya berkenalan dengan QQ mahasiswa asli taiwan dan Jason yang murah senyum tapi kadang geje, serta mas rieza asal aceh yang sering sekali menirukan logat Raditya Dika di film malam minggu miko. -_-

Anyway, yang bisa saya ambil dari sini adalah, pertama, ketika belajar di negara lain, tunjukkan niat sebaik-baiknya kita dalam melakukan sesuatu. Tunjukkan kita mampu dan mau untuk belajar, tapi tanpa melebih-lebihkan jika kita tidak bisa.

Poin kedua yang bisa saya ambil adalah, hentikan kebiasaan menunda pekerjaan. Saya melihat bahwa meski tuntutan di lab tidak setinggi di lab depan saya yang tidak minggu present in front of the class, tapi bukan berarti menjadikan seseorang menjadi malas dan menunda sesuatu.

Poin ketiga, lakukan sesuatu dengan semaksimal mungkin. Jangan asal-asalan. Jangan lupa, bahwa mendapat kesempatan belajar di luar negeri bukan berarti untuk diri kita sendiri. Semua akan kembali kepada kebermanfaatan pada daerah dan penduduk tempat kita belajar ini. Apalagi jika bisa diimplementasikan di Indonesia. Jangan lupakan pula bahwa dengan melakukan sesuatu dengan baik akan memberikan kesempatan yang terbuka lebar selanjutnya untuk adik-adik lain di Indonesia melanjutkan study di luar negeri.

Poin ke empat, ketika masuk ke tempat baru kita akan enjumpai banyak orang baru dan kita secara langsung atau tidak langsung akan bekerja sama dengan mereka. Jika pun tidak tetap saja kita akan se lab dengan mereka dan bertemu setiap hari. Meskipun berbeda kewarganegaraan, tetap tunjukan saja kekhasan kita, ramah bersahabat. Untuk taiwan sendiri berdasarkan kata lao she (sensei/guru .red), mereka cenderung pemalu. Nah, first time, tidak masalah bagi kita yang mengajak bicara mereka dan discuss dengan mereka.

Poin ke lima, ini khusus untuk mereka yang kepercayaan dirinya naik turun secara drastis. Apalagi ketika ingin menghadap dosen/prof seperti yang baru saya alami minggu-minggu lalu, ada beberapa tips yang bisa saya sharekan.. Salah satunya adalah bangun ketenangan diri kita. Rasa was-was deg-deg an itu wajar. Takut salah itu wajar. Tapi yang kadang kita lupakan adalah, lakukan yang terbaik. Urusan diterima atau tidak itu urusan akhir. Jika diterima Alhamdulillaah, jika ditolak, Allaahu Akbar, kita masih bisa mencari yang lain insya Allaah. Jangan sampai rasma deg-degan itu membuat sindrom jatuh di panggung sehingga kosong pikiran kita. Terapi istighfar, shalawat, wudlu, ngaji, atau doa manjur saya terapkan disini alhamdulillaah sepanjang menjalani minggu-minggu di kampus baru.

To be continued in another chapter ~😀

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s