Posted in Campus Side, Memoar Perjalanan

Campus Side #1


Ada perbedaan mendasar yang ada di perkuliahan di indonesia dan luar negeri. Mungkin, saya ambil spesifiknya lebih kepada ITS. Di ITS belum ada kelas internasional sehingga mungkin inilah yang menjadikan adanya perbedaan. Meski sudah ada rencana 2015 untuk lebih go internasional, seharusnya dari sejak tahun sekarang sudah ada rintisan kelas pertama untuk kelas internasional. Jika terkait masalah akreditasi, sebenarnya tidak masalah. Kampus bisa mengambil mahasiswa terpilihnya untuk dimasukkan ke kelas internasional itu. Sama seperti pertama kali program kami, Fastrack di terapkan di kampus. Program uji coba, tapi alhamdulillaah tahun sekarang sudah memasuki tahun kedua dan banyak pembelajaran yang bisa diambil.

NTUST

[my new campus tampak atas]

Nah, kembali ke pembahasan awal. Saya bersyukur untuk mendapatkan kesempatan belajar seperti ini di Taiwan. For the first time, saya belum mengambil mata kuliah apa pun. Jadi saya hanya mengambil kelas sit ini. Dari seseorang saya belajar bahwa jangan menggantungkan diri pada orang lain. Dalam artian, tidak perlu untuk masuk kelas menunggu yang lain. Benar saja, ketika saya menerapkan ilmu tunggu-tungguan, meski saya sudah ontime, tapi teman saya tidak. Berefek pada telatnya kami berdua. Unfortunately, i dont want to feel it again next time. Budaya yang harus ditata lagi.

Perbedaan yang saya rasakan ketika kuliah di kelas internasional adalah mahasiswa yang berada di kelas berasal dari berbagai daerah. Jika di kelas IM (Industrial Management) mungkin tidak seberapa terasa, tapi terasa sekali ketika saya masuk ke kelas MBA. Kurang lebih ada 11 mahasiswa dari berbagai pelosok hingga Eropa dan USA. Pola pikir yang dipunya pun berbeda, lebih kritis, melihat dari sisi berbeda. Meski sebenarnya bisa di bilang mahasiswa asia terutama indonesia tidak kalah pintar, tapi banyak yang lebih cenderung adem ayem, menyimpan dalam2 pemikiran. Padahal seharusnya tidak begitu. Kelas-kelas macam ini juga yang mau tidak mau memaksa saya untuk berbahasa inggris. Karena, tidak mungkin bagi saya untuk menggunakan bahasa chungwan (mandarin).

Berbicara tentang kebiasaan di kelas, model kelas terutama kelas MBA adalah grup. Beberapa dosen ada yang menggunakan metode acak dalam memilihkan mahasiswanya grup. Saya lebih senang metode ini karena saya bisa berkenalan dengan banyak mahasiswa dari negara lain. Berbeda ketika saya masuk ke kelas MBA seorang sendiri. Awalnya saya berniat hanya sit it, tapi karena kuliahnya sangat enak, saya jadi ingin enroll. Tapi, yang tidak bisa dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum adalah isu rasisme. Bukan dari dosen atau profesornya. Profesor malah justru sangat welcome dan baik, seperti yang saya alami dari profesor saya sendiri. Yang membedakan justru lebih kepada mahasiswanya. Saya memperhatikan 1 minggu perkuliahan yang ada di beberapa kelas. Kebanyakan mahasiswa masih memandang aneh terhadap mahasiswa Indonesia, terutama yang berkerudung. Terbukti mereka lebih cenderung untuk memilih sesama yang berkulit putih dari negara lain. (that’s mean, kulit saya kurang putih ya? :v . just kidding). Malah lab mate teman saya kemarin bilang, “masak saya harus berkelompok dengan orang indonesia ?” .red. Untungnya lama-lama saya jadi cuek. Benar kata teteh, meski harus berdarah-darah, tunjukkan prestasi kita saja untuk membuat mereka silent nantinya.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

4 thoughts on “Campus Side #1

  1. Halo mbak, salam kenal🙂 saya mau tanya dong tg MBA di NTUST. Kalo saya liat di web nya program MBA itu ada dua ya? Yg pertama dibawah Business Adm. Dept, trs yg kedua lgsg dibawah School of Management. Mbak punya info gak soal perbedaannya? Terutama sih masalah kurikulumnya. Makasih ya mbak sebelumnya.

    1. hai. salam kenal juga. bbrp waktu lalu sy tanyakan ke teman yang ada di jurusan BA. Kalau yang dia sampaikan:
      BA: tipe pengajaran yg biasa (dosen ngajar, mahasiswa dengerin aja), pembelajaran jg kebanyakan text-book based, lebih sering tugas individu, lebih banyak mata kuliah yg mandarin, sudah mulai masuk lab dr awal (at least dr smstr 2), required sks-nya sedikit (normal)..
      MBA: di kelas lebih banyak diskusi dan yg aktif dpt poin, kebanyakan belajar case2 yg up to date, lebih sering tugas / presentasi kelompok, lbh banyak mata kuliah yg pake bahasa inggris, ngga perlu masuk lab (ga punya lab) jd milih prof di thn ke-2 utk bimbingan thesis aja, butuh 50 sks utk lulus..
      MBA itu program international (MBA = iMBA) dan BA itu program lokalnya.. Tp anak MBA tetep bs ngambil matkul BA, gt jg sebaliknya..
      MBA ga ada fast track, tp BA ada..
      Jd MBA itu sbnrnya utk yg udh punya pengalaman kerja, jd lbh ke pembahasan case2, tp di ntust peraturan ini ga terlalu ketat, jd fresh graduate jg banyak yg bs masuk ke MBA..
      Kurang lebih itu bedanya.. Semoga bs membantu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s