Posted in Memoar Perjalanan, Road to Taipei

Road to Taipei #2


Bukan terlambat menyadari, hanya saja saya melihat tidak ada muslim satupun di dalam pesawat itu mengingat yang berkerudung di dalam pesawat besar itu hanya saya dan teman saya. Tapi sepertinya kebanyakan orang dewasa sudah terbiasa dengan orang muslim dimana-mana sehingga saya pun biasa saja (dari awal memang harusnya biasa saja bukan? ^^v)

Di pesawat lagi2 kami melihat ke kanan kebelakang ke atas ke samping. Tepat d samping depan kami duduk seorang bapak berkewarganegaraan jerman. Yang keren dari beliau adalah totally almost his time digunakan untuk mengerjakan sesuatu, tidak tidur atau pun mengantuk. Beliau selalu berada di depan leptop atau pun membawa kertas dan bolpoin. Saya sekilas mengintip ke arah kertas yang beliau kerjakan, isinya adalah kumpulan mapping dan angka-angka yang tidak bisa dimengerti dengan sekali lihat. Benar2 beliau menghabiskan waktu dengan sangat bermanfaat.

Kemudian saya melihat ke arah belakang. Tiga bangku diisi dengan 2 orang anak kecil dan seorang bapak yang saya pikir itu adalah ayah dari keduanya. Di suatu kesempatan saya dan teman saya melihat ke arah salah satu anak yang sedang asyik menggambar dan digambarnya itu ada tulisan dalam bahasa inggris. Wah keren pikir saya, dari kecil sudah bisa inggris, apalagi di awal saya mengira dia adalah penduduk asli cina, namun setelah saya lihat lebih detail ternyata dia bukan termasuk warga tersebut. Selain berbicara dengan bahasa asing daerahnya (saya tidak jelas itu bahasa apa ya), sang ayah kemudian mengajak untuk berbicara dengan bahasa inggris dan dilain kesempatan si kecil ketika melewati tempat2 yang bagus selalu bilang, oo so beautiful, i see. Good good. Karena gemas ta tertahankan akhirnya kami pun mengajak bicara si kecil dalam bahasa inggris. Namanya wales, senyumnya manis menggemaskan. Cuma mungkin dia belum terbiasa melihat orang berkerudung jadi dia agak membalas dengan bingungπŸ˜€. But finally akhirnya saya bisa berkenalan dengan orang asing yang imut hohoho.

Kami pun berhasil landing dengan selamat pada pukul 22.45. Setelah landing d taipei saya mendapati kondisi yang berbeda antara bandara KLA. Bandara memiliki lantai lebih cantik, mirip marmer, jauh lebih bersih, orangnya lebih ramah ketika saya bertemu di daerah kamar mandi (mereka menyapa kami). Dan yang saya sangat suka adalah budaya tertib mengantri. Jika ada garis line ketika di migrasi biasanya orang akan sangat tidak sabaran. Sedang di taiwan sangat tertata. Bahkan hingga malam pun masih ada petugas yang mengarahkan agar orang2 yang baru datang segera ke loket yang baru saja kosong.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s