Posted in Catatan Naylaa

Pengemis dan Pedagang


Setiap kali mengingat kejadian di hari itu, saya tidak bisa berhenti berpikir. Karena mungkin agak aneh menerima kenyataan. Agak hiperbolis memang, tapi semoga bisa diambil hikmahnya.

Peristiwa itu terjadi sekitar bulan Desember lalu, dimana saya sedang dalam perjalanan pulang ke Surabaya. Meski hari masih termasuk liburan, tapi banyak hal yang harus diurus esok harinya. Ketika itu saya sedang mendengarkan melalui headset handphone dengan tas berada di atas tempat menaruh tas. Tidak biasanya saya lakukan, tapi memang barang sedang berat dibawa sehingga capek rasanya jika harus meletakkan tas di atas pangkuan selama 2 hingga 3 jam. Dan lalu lalang banyak orang berjualan. Terhitung bisa lebih dari 5 kali para pedagang asongan kereta berjalan mengelilingi kereta menjajakan barang-barangnya. Mulai dari minuman, makanan, hingga alat pijat. Karena lapar, rupanya rombongan ibu2 di depan saya kemudian memanggil bapak penjual pop mie. Saya bisa melihat betapa senangnya beliau ketika barangnya dibeli, apalagi ibu tersebut membeli cukup banyak.

Selang 10 menit, ada seorang pengemis lewat diantara para pengemis yang sudah ada sebelumnya. Biasanya jika pengemisnya masih muda, saya cenderung untuk membiarkannya. Saya tidak mau memberikan ruang untuk menjadikan kebiasaan dia meminta dan malas. Dia masih punya tangan, kaki, mata, dan panca indera lain yang lengkap, tapi hanya mengemis atau mengamen. Masak tidak bisa bersyukur dengan memanfaatkannya? Nah, kembali pada pengemis tadi, kebetulan yang mengemis adalah bapak-bapak sepuh. Beliau memainkan alat berupa suling. Dengan niat karena Allaah, mencoba merogoh saku. Baru sadar bahwa uang ada di dalam tas yang ada di atas kereta, dan di saku hanya ada satu logam koin. Lupa, 100, 200, atau 500 ya? Tapi, tak apalah pikirku, yang penting niat, semoga berkah. Dan begitu saya berikan, bapaknya mengambil dan melihat sekilas sambil berucap, “Mbak, mbak, duit sakmene iki gak iso gawe tuku opo2!”. Langsung, reflek saya kaget. Astaghfirullaahaladzim.

Diperjalanan setelah dari kereta saya berpikir. Salahkah saya? Apakah memberi sesuatu itu harus ada standar batasan minimal?

Dari sini saya membandingkan tiga hal, yaitu keluarga saya, bapak pengemis, dan sang penjual dagangan di kereta. Dari kacamata saya, bapak penjual dagangan di kereta itu mirip dengan keluarga saya yang notabene pedagang. Bagi kami yang berjualan, melihat dagangan laku itu sangatlah membuat hati bahagia. Apalah kerja pedagang itu. Satu barang untungnya tak banyak pula. Meski demikian, yang membuat beda adalah semua itu menjadi jerih payah dari keringat sendiri. Syukur menjadi sebuah cita rasa dan bumbu penyedap terenak . Makanya ketika melihat ada yang memandang tak suka dengan sebutir koin, saya cuma bisa diam dan beristighfar. Berharap terhindar dari sifat tidak bersyukur atas nikmat sekecil apapun, dan menengadahkan tangan ketika raga masih bisa berpeluh keringat. Tiba-tiba berkelebat pula sebuah selentingan dari pembahasan dosen saya dulu, “Orang miskin itu lebih dekat dengan kekufuran”. Meskipun kata-kata itu ternyata merupakan hadist dhoif, tapi jika melihat banyak hal yang bisa mengajarkan pada kita, kata-kata tersebut bisa menjadi hikmah tersendiri.

Allaahummaghfirlahum waafini wafuanhum.. Semoga nikmat syukur dan iman itu senantiasa ada.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s