Posted in Catatan Naylaa, Mengambil Teladan

Pemuda Gaza dan Pemuda Indonesia


Kebahagiaan ketika melingkar kembali salah satunya adalah ketika banyak hal baru yang saya peroleh. Apalagi jika itu berasal dari narasumbernya langsung. Tentu saja itu menjadi kesenangan tersendiri.
Ketika itu murobbiyah saya bercerita dimana beliau mengunjungi sebuah forum di daerah barat. Disana beliau bertemu dengan seorang ustadzah yang ketika itu pernah mengunjungi Gaza bersama rombongan komisi 10 dari Indonesia. Sebut saja ustadzah Nur Jannah (supaya kelak saya ndak lupa sumbernya dari siapa ). Beliau bercerita ketika rombongan mencapai tanah Palestin, mereka dijemput oleh beberapa mobil sekelas BMW (saya lupa jenis tipe mobilnya), dengan orang-orang yang sangat rapi. Jika dulu yang ada di pikiran saya pastinya Negara yang sedang perang sibuk menghadapi musuh dalam keadaan lusuh, suasana mencekam dan sebagainya (pikiran yang aneh-aneh versi orang awam). Ternyata semua tidak benar! Media memang menipu. Huhh~

Salah satu agenda beliau kala itu adalah mencoba mengunjungi tempat tahanan Israel. Sebenarnya aneh juga, kok boleh-bolehnya ya penjaranya dikunjungi. Mungkin salah satunya adalah menjaga citra di mata dunia dan yang mengunjungi adalah pihak pemerintah kata teman-teman. Wallahu ‘alam. Disana beliau juga bersama dengan salah seorang ibu yang ingin bertemu dengan anaknya yang dipenjara 10 tahun lalu ketika berumur 10 tahun. Kejam. Nemen. Ndak beradab tenan! Anak kecil saja dipenjara. Lebih-lebih lagi, beliau mendapat cerita bahwa ternyata Israel memenjarakan warga palestin 1000-1500 tahun! Sebuah bilangan angka yang sangat tidak logis. Mana ada di zaman sekarang yang memiliki usia mencapai angka tersebut. Ternyata tidak lain, saking takutnya mereka akan rakyat Palestin, bahkan jenasah mereka pun masih dipenjarakan!

Beliau juga bercerita, jika di penjara biasanya wajah para penghuninya adalah wajah-wajah pasrah, lain halnya dengan tahanan berisi warga palestin. Penuh dengan wajah tanpa pernah merasa pesimis atau pasrah. Ya, karena dalam benak mereka tak tampak rasa takut pada kematian atau siksaan. Bahkan itu bagi mereka merupakan syahid dan impian semuanya. Jika mau ditanyakan pada hampir setiap anak kecil yang disana akan mimpi mereka, pasti jawaban mereka satu sama lain sama. Menjadi barisan Izzuddin Al Qasm dan mati syahid! JLEB! #Merekam ulang mimpi saya sendiri. Adakah yang seperti itu nduk?

Oya, FYI, pernah dengan tentang barisan Izzuddin Al Qasm? Yang saya baru tahu adalah tidak semudah itu untuk bergabung disana. Ada tiket khusus agar bisa bergabung dengannya. Syarat pertama adalah hafal Al Qur’an. Syarat kedua selanjutnya adalah hafal minimal 40 hadist Arba’in. Dan syarat ketiga adalah tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah sejak baligh. Nah, monggo dilihat sendiri kalau di Indonesia kira-kira ada yang berhasil lolos ndak ya? Anyway, saya kira yang tergabung dalam barisan ini hanya yang putera saja. Tapi ternyata yang puteri juga. Wow, subhanallaah!! :O

Kalau kita tahu, Palestin berbaik sangka dengan kita. Melihat kondisi kita yang sangat damai tanpa perang seperti mereka, mereka menganggap kita punya banyak waktu untuk berbuat kebaikan. Istilahnya Surplus Kebaikan, lebih dibandingkan dengan mereka. JLEB! JLEB! JELB!!! Saya tidak bisa membayangkan apa yang kemudian diucapkan warga Palestin jika berkunjung ke Indonesia dan pemudanya berada dalam kondisi loyo. Betapa berbaik sangkanya mereka! Jadi mana yang lebih Surplus Kebaikan? Pemuda Gaza atau Pemuda Indonesia?

Berbicara tentang kunjungan ke Palestin, saya jadi teringat sebuah kisah di sebuah buku yang mengenang almarhumah ustadzah Yoyoh Yusro. Beliau ketika itu pernah bertemu dengan salah satu ummahat di Palestin sana. Ummahat tersebut berhasil melahirkan lebih dari 10 mujahid kecil serta hafidzoh. Beliau kemudian bertanya berapa jumlah hafalan yang dipunya ustadzah tersebut. Saya lupa berapa jus Al Qur’an pastinya Ustadzah Yoyoh menjawab, hanya saja ketika itu sang ummahat mengatakan sesuatu yang sangat menusuk. “Antum sudah berapa tahun menjalani hidup? Hingga sekarang belum berhasil menghafal Al Qur’an?” Kata-kata itulah yang kemudian membuat beliau menangis, dan senantiasa memuroja’ah ayat-ayat Al Qur’an meski kesibukan beliau sangat luar biasa, bahkan ketika detik-detik menjelang wafatnya beliau.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s