Posted in Catatan Naylaa

Anak dan Bentukannya


Salah seorang sahabat mengajarkan sebuah pelajaran kepada saya. Dia selalu tak lupa meminta kepada Allaah agar setiap waktu perjalanan pulang mudik ke Surabaya atau sekembalinya lagi selalu ada hikmah yang bisa dia ambil. Kemudian keesokan harinya saya mencoba menerapkan itu. Meski hanya berpergian kecil, yaitu perjalanan sepulang dari kuliah. Sebenarnya saat itu saya bisa saja langsung pulang dengan berjalan. Tapi mengingat uang tinggal 1000 di kantong, ah, saya memutuskan untuk mengambil uang di ATM kampus sebelah setelah itu naik lyn (angkot) karena kepala pusing sekali. Sindrom yang biasa muncul ketika kepanasan, ditambah ketika itu saya sedang radang sehingga suara 0,1 %. Sambil membawa tas cukup besar, dan 2 buku diktat, saya berharap menemukan lyn yang lenggang.

Alhamdulillaah, 5 menit kemudian saya mendapati sebuah lyn. Seorang penumpang duduk di depan di samping supir, sedang saya di belakang dengan seorang ibu dan anaknya. Sang ibu rupanya cukup kelelahan. Saya mengamati dari atas hingga bawah pakaian beliau (maklum, tukang iseng mengamati hehe), sepertinya beliau sedang perjalanan jauh. Tangan kanannya memegang payung, dan tangan kanannya meneluk anaknya yang sedang duduk merapat dengan bundanya itu. Pandangan mata saya kemudian beralih kepada si adik kecil. Adik lelaki rupanya, cukup imut (efek ndak punya adek). Tapi, DEG, pandangan saya beralih ke tangannya. Tangannya memegang erat sebuah VCD lagu. Oke kalau lagu anak-anak saya tidak masalah, tapi yang saya lihat itu adalah VCD lagu dangdut dengan judul yang menurut saya tidak sopan, dan covernya bergambar seorang wanita dengan pose yang sangat tidak pantas untuk dilihat karena pakaian serba terbatas. Reflek saya nyebut, astaghfirullaah. Milik siapakah itu? Si anak? Atau si orangtua?

Pikiran yang berkelebat di otak saya bukan kepada si anak, tapi kepada si orangtuanya! Tidak mungkin si anak yang punya. Tapi kalaupun memang si anak, mengapa bisa-bisanya orangtuanya membiarkan anak tersebut membawa barang seperti itu. Apa bedanya dengan tontonan-tontonan tak pantas namun dikemas dalam balutan musik-musik jahiliyah?? Dengan perasaan bercampur aduk, saya hendak menegur si ibu, tapi ternyata suara yang keluar tak ada karena radang. Saya jadi menyesali kebodohan karena kurang menjaga badan. Alhasil, yang saya lakukan hanya selemah-lemah iman. Saya memandangi kedua pasangan ibu dan anak tersebut, sambil sesekali melontarkan pandangan bergantian kepada si ibu, anak, dan VCD itu. Dan sepertinya si ibu tersadar dan memindahkan posisi keduanya. Hati saya menangis. Rasanya saya sakit, seolah-olah yang seperti itu adik saya padahal bukan.

Pulang ke rumah saya mengambil wudlu untuk menenangkan pikiran, kemudian sholat dhuhur dan membaca qur’an. Selepas itu saya mengalihkan perhatian saya pada majalah yang baru saya beli kemarinnya. Sebuah tagline yang sangat pas sekali dengan yang sedang terjadi. Dari penggalan bacaan keluarga tersebut saya berusaha mengambil hikmah.Mengajarkan kebaikan pada buah hati tentunya kewajiban setiap orangtua. Sayangnya dalam penyampaiannya tak jarang orang tua yang mengalami kendala. Mungkin, inginnya kita menjadikan anak sebagai anak yang sholeh, tapi ternyata si orangtua belum mengajarkan sholat sedari kecil. Keinginan untuk menjadikan anak jujur, tapi ternyata sedari kecil belum tertanam pentingnya sifat jujur. Keinginan untuk menjadikan anak bertutur kata halus, tapi ternyata sedari kecil orangtua terbiasa saling membentak menyalahkan satu sama lain. Alhasil, air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Karakter dan sikap anak tak jauh berbeda dengan kedua orangtuanya. Jika teladan dari orangtua baik, insya Allaah anak tak jauh berbeda. Karena dalam jiwa si anak, orangtua adalah cermin baginya. Maka ketika apa yang diajarkan orangtua baik, maka akan Nampak dalam perilaku si anak insya Allaah.
Ya, sebenarnya tak ada orang tua di dunia ini yang memahami betul agama lantas malah membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa bimbingan dan arahan. Karena kelak, akhirnya Allaah jualah yang akan meminta pertanggungjawaban atas amanah-amanah yang telah Allaah titipkan melalui jundi-jundi kecil yang telah lahir dari mereka. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya” (HR Bukhari Muslim, insyaAllaah).

Mengenai kejadian yang terjadi tersebut, saya yakin itu masih sebagian kecil contoh yang terjadi di Indonesia. Jika itu terus berlanjut, saya yakin semakin banyak generasi penerus bangsa yang harusnya bisa menjadi mujahid tangguh pembangun peradaban malah terpuruk asyik dengan tontonan-tontonan atau sajian ala duniawi. Maka, tak salah jika memang keluarga memegang elemen penting pembentukan umat yang keren. Penting bagi elemen dari keluarga untuk dibekali dengan tarbiyah sedari kecil. Saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menjadi teladan.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

2 thoughts on “Anak dan Bentukannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s