Posted in Catatan Naylaa

Catatan Pasca Kampus Seorang Teman


Ah, pada kenyataannya dunia pasca kampus berbeda jauh dengan dunia mahasiswa. Itu statement yang sering terbayang di syaraf2 otak saya. Kembali menelisik jauh, perbincangan dengan seorang akhwat pasca pulang dari forum bersama, “Ukh, saya bingung harus mengedepankan mana, pekerjaan atau idealism saya? Tanyanya. Saya kaget dengan pertanyaannya. Rasanya aneh bisa diucapkan oleh akhwat satu ini karena yang saya tahu dia bukan tipe-tipe orang yang galau seperti saya. Ah, lagi-lagi saya menepuk pipi saya membangunkan dari lamunan sendiri. Sebuah perasaan bimbang yang manusiawi.

“Kenapa buwk kq tiba2 menanyakan begitu?” sy lontarkan pertanyaan pelan dengan gaya khas. Barulah kemudian ia bercerita deretan lamaran yang dia ajukan pasca lulus. Ternyata sudah berulang kali dia mengunjungi bursa kerja, mengajukan lamaran, dan mengikuti tes wawancara, tapi Allaah menakdirkan lain dengan menundanya diterima. Dan yang terakhir ia bercerita bahwa ia ditawari salah seorang kenalannya untuk bekerja di perusahaan untuk mengelola projek disana. Adakah yang membuatnya ragu dan sudahkan bertanya kondisi iklim kerja disana pada senior yang disana, tanyaku kemudian. “Sudah”, sahutnya, “untuk segi gaji alhamdulillaah lumayan buwk. Tapi yang kudengar, disana hingga malam, dan g segan2 pulang pagi. Khwatir pula jika nanti ada ajakan untuk karaokean bareng”, paparnya. Maklum memang, pekerjaan di bidangnya ini memang minim puteri mengharuskan interaksi di lapangan dengan anak putera.

“Selain itu, pernah ada kejadian suap ukh disana dengar2,” tambahnya. “Pernah ku konsultasikan ke mbak2 saya (yang kebetulan memang belum tertarbiyah), dan mbak2 cerita, kalau memang gitu yang sering terjadi di pemerintahan. Tempat mbak2 bekerja pun juga begitu” ceritanya. Saya tahu dia sama sperti saya, menginginkan kondisi safe untuk kerja. Terutama yang aman buat akhwat. Apa nyaman bekerja dengan lingkungan yang tidak baik begitu. “Yang bikin saya bimbang dan tertusuk ukh, statement mbak2 selanjutnya ‘Kalau kamu terlalu mengedepankan idealismemu, sampai kapan kamu mau dapat kerja dek?!? ’. Karena itulah, sampai sekarang ku masih bingung ukh”. Saya makin ndak tega melihatnya T_T

Tapi alhamdulillaah, akhirnya teman saya tersebut memperoleh ganti pekerjaan yang lebih baik, dan Insya Allaah lebih terjaga🙂

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s