Posted in Catatan Naylaa

Kegejean Pemerintahan Kampus


Dalam sejarah sepanjang kongres mahasiswa, saya baru tahu bahwa yang namanya lembaga eksekutif tertinggi itu tidak termasuk dalam pihak yang diundang dalam kongres?

Oo. maka saya tidak heran ketika tiba2 presiden saya malam-malam menginfokan bahwa besok pagi kita ada kongres dan besoknya tidak ada kabar lagi. Karena kondisi di lapangan seperti itu. Antara geleng-geleng kepala dan tertawa terpingkal-pingkal.

Keren sekali. Alasan yang dimasukkan sang penyelenggara yang notabene adalah legislatif tertinggi adalah sangat bisa dibilang janggal bahkan tidak masuk akal. “Karena tidak ada dalam penyebutan di buku tata peraturan kampus”. Pasal mana? Tanda Tanya besar di kepala. Ketika dalam rapat kabinet disebutkan pasal-pasal yang dijadikan acuan legislatif tersebut, nampak sudah ketidakrasionalan. Etika Politik yang tidak Etis. Pun, di Indonesia tidak terjadi demikian.

Saya jadi heran. Sejak awal hingga hampir menjelang akhir kepengurusan, kok ya, semakin parah ya?

Kenapa tidak tabayyun? Lho, sudah lah~ Pertama kali

Bukan membandingkan dengan legislatif kepengurusan sebelumnya, hanya saya merasa, kok rasanya aneh ketika suatu lembaga itu terkesan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan belajar kepada yang sebelumnya pun tidak. Tidak menyimpulkan, tapi saya tahu sendiri dari teman-teman kepengurusan sebelumnya apakah yang sekarang ini meminta transfer atau minimal belajar dari kepengurusan sebelumnya. Jawabannya “Tidak”. Wow..

Pun, saya masih heran ketika teman2 tidak belajar pada kongres pertama ketika ada “masukan-masukan” mulai dari kami bahkan pihak perwakilan jurusan tentang penyelenggaraan lpj tengah kepengurusan yang normally jelas butuh waktu lebih dari 1 hari, malah undangan yang diberikan hanya 1 hari. Eh ralat. Without a formal invitation. We didn’t receive a single invitation actually. Geleng-geleng lagi.

Ah, lelah rasanya.

Jadi kepikir. Jaman Rasulullah aja, shahabat tidak malu atau gengsi untuk belajar pada shahabat yang lain. Maka yang saya pikirkan, apalagi ketika menjabat suatu amanah. Kenapa tidak mau belajar dari yang lain? Kenapa tidak melihat bahwa yang paling utama adalah melakukan amanah dengan sebaik-baiknya dan tidak gengsi untuk belajar dari yang lain?

Yah saya berharap mereka juga membaca tulisan saya. Karena salah satu diantaranya ada yang tidak pernah menyapa saya lagi sejak dia menjabat disana. Aneh, aneh. Adik sholeh yang aneh. *geleng-geleng kepala

 

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s