Posted in Catatan Naylaa

Potret”Wong Cilik”: Lebih Mulia Daripada Koruptor


 

BOCAH-bocah cilik selalu telihat disudut-sudut prapatan stopan lampu merah, di Terminal, pasar atau disetiap gerbong kereta api berbaur dengan para pedagang asongan dan pengamen lainnya. Mereka berusaha mengais rejeki halal dengan cara memungut plastik-plastik bekas minuman air mineral, kardus dan barang bekas lainnya. Dan ada juga diantara mereka yang turut mengamen dan jualan, bahkan ada juga dengan cara meminta-minta, mengharap belas kasihan orang.

 

Hampir rata-rata mereka adalah bocah-bocah yang putus sekolah, mereka oleh orangtuanya dituntut untuk membantu menambah penghasilan ekonomi keluarga. “Lumayan sih, selain bisa membantu emak, buat jajan juga ada,” ujar seorang bocah cilik pemungut barang-barang bekas di sebuah gerbong KRL.

 

Keterpurukan ekonomi di negeri ini imbasnya sangat terasa oleh para “wong cilik”, yang hidupnya selalu tidak beruntung, terdzalimi, teraniaya dan tak berdaya. Sementara para begundal koruptor dengan leluasanya menikmati uang haram hasil jarahannya.”Mendingan usaha begini daripada maling,” timpal kakaknya..

 

Dari hasil barang bekas yang dikumpulkan mereka, sebelum dijual ke lapak penerima barbek alias barang bekas, dibersihkan dulu dari kotoran dan plastik penutup gelas aquanya. “Kalau sudah bersih, dijualnya bisa mahal,” imbuhnya.

 

Sebenarnya mereka juga kepingin seperti anak-anak yang lainnya, sebagaimana anak-anak dari keluarga berada (mampu), bisa meneruskan sekolah.”Ya…, kepinginnya sih begitu. Bisa sekolah lagi. Tapi keadaannya begini, mana bisa untuk sekolah, bisa makan juga sudah Alhamdulillah,” timpal kakaknya yang agak dewasa.

 

Ternyata, sebut saja namanya Ikbal, dia pernah mesantren dan tamat sekolah madrasah. Karena keterpurukan ekonomi keluarganya, mau tidak mau ia pun berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia bersama kedua adiknya berusaha sebaik mungkin untuk membantu penghasilan ibunya. “Emak saya juga sama, pekerjaannya mencari barang bekas.”

 

Betapa pilunya hidup mereka, yang selalu bergelut dengan ketidakberdayaan. Seakan nasib tidak berpihak kepadanya, padahal mereka sendiri selalau berusaha keras untuk merubah nasibnya. Berusaha berjuang siang dan malam mengumpulkan barang-barang bekas, bahkan tidurpun selalu di pasar-pasar atau terminal. Karena dikota seperti Jakarta mereka tak memiliki tempat tinggal. Kebanyakan mereka dari sebuah kampung di luar Jakarta.

 

Inilah sebuah “potret kehidupan wong cilik” ditengah kota metropolitan. Kota yang terkenal dengan berbagai fasilitas kemewahan, tapi bagi mereka tak pernah menikmati hidup mewah di Jakarta. Dan ini merupakan sebuah gambaran hidup di negeri yang kaya dengan mafia koruptornya, sebuah gambaran ketidakberdayaan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya.

 

Mereka benar-benar menekuni perkerjaannya dengan ikhlas dan pasrah kepada Allah, apalagi bila dibarengi dengan rasa iman dan taqwa, Insya Allah mereka dimuliakan oleh Allah daripada orang kaya yang hasil kekayaannya dapat menjarah uang negara alias korupsi. Mereka itu lebih mulia daripada koruptor. (AN-02).

 

 

* catatan potret wong cilik berita analisa

 

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s