Posted in Ramadhan Ceria

RAMADHAN TERLALU INDAH UNTUK DISIA-SIA


Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang atas nikmat dan karunia-Nya. Hingga akhirnya, kita masih mendapatkan limpahan cintaNya yang teramat besar, yaitu berjumpa dengan bulan Ramadhan. Alhamdulillah wa syukurillah.

Sebagai seorang muslim dan muslimah yang ta’at, sudah sepantasnya kita menyambut Ramadhan dengan penuh suka cinta. Terlebih, tiada yang tahu apakah Ramadhan ini akan dapat kita jalani hingga penuh tanpa izinNya. Maka, menjadi sebuah keniscayaan untuk mengoptimalkan. Berlomba-lomba merebut cintaNya dengan memanfaatkan bulan Ramadhan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, dalam melaksanakan ibadah Ramadhan dibutuhkan ilmu. Ilmu itulah yang akan menuntun dalam kebenaran melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya.

Beberapa pembahasan di bawah ini adalah yang saya peroleh dari beberapa sumber, terkait tentang sunnah-sunnah dalam berpuasa.

SUNNAH-SUNNAH PUASA

[1] Mengakhirkan Sahur
Makan sahur memiliki banyak keutamaan. Selain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkannya, makan sahur merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dengan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur” (HR. Muslim)

Dianjurkan pula mengakhirkan makan sahur. Zaid bin Tsabit berkata kepada Anas “Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk shalat”. Anas bertanya “Berapa lama jarak antara adzan shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab “Sekitar membaca 50 ayat” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits ini memperkuat firman Allah, “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al Baqarah: 187).

[2] Menyegerakan berbuka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari-Muslim).
Di dalam riwayat Abdurrazzaq yang shahih dari ‘Amr bin Maimun, beliau berkata “Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bersegera berbuka dan yang paling mengakhirkan sahur”. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar).

[3] Berbuka dengan Kurma jika ada atau air
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan rathb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada pula, maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, hasan shahih).

[4] Berdo’a ketika berbuka
Do’a yang shahih yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka adalah “Dzahabat zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” yang artinya “Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah dan pahala telah ditetapkan insya Allah” (HR Abu Dawud, hasan).

Adapun do’a “Allahumma laka shumtu…dst” derajatnya dha’if (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Cukuplah hadits hasan dijadikan sebagai pegangan beramall.

[5] Memberi makan orang berbuka
Memberi makan orang berbuka mengandung keutamaan besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga” (HR Tirmidzi, shahih).

HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN

Islam itu agama yang mudah. Allah ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan, sehingga Allah membolehkan beberapa perkara untuk dikerjakan oleh orang yang tengah berpuasa, di antaranya:

[1] Tetap berpuasa meski mendapati waktu subuh dalam keadaan junub (hadats besar)
Seseorang yang mendapati waktu subuh dalam keadaan junub boleh untuk tetap berpuasa sebagaimana yang diriwayatkan oleh dua istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma keduanya berkata “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati fajar (waktu subuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa” (HR Bukhari-Muslim)

[2] Bersiwak (sikat gigi)
Boleh bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak karena tidak ada larangan ketika tengah berpuasa. Bahkan siwak di anjurkan setiap saat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siwak itu membuat mulut bersih dan diridhai Allah” (HR An Nasa’i, shahih). Ulama hanya berbeda pendapat tentang makruh atau tidaknya bersiwak bagi orang yang berpuasa.

[3] Berkumur-kumur dan isytinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dengan nafas) dengan tidak berlebihan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan bersungguh-sungguhlah kalian ber-isytinsyaq (ketika wudhu) kecuali dalam keadaan berpuasa” (HR Tirmidzi, shahih). Artinya, boleh ber-isytinsyaq ketika berpuasa akan tetapi tidak bersungguh-sungguh (berlebihan).

[4] Bercumbu dengan istri dan menciumnya
Hal ini dibolehkan selama tidak keluar mani. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan mencumbu (istrinya) dalam keadaan berpuasa karena beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya” (HR Bukhari-Muslim).

[5] Berbekam dan donor darah
Mayoritas ulama membolehkan orang yang berpuasa untuk berbekam. Adapun hadits tentang batalnya puasa orang yang berbekam yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Dawud memang shahih, akan tetapi telah di-mansukh (dihapus hukumnya) oleh hadits riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan beliau berpuasa” (HR Bukhari). Disamakan pula hukumnya dengan donor darah karena sama-sama mengeluarkan darah dari dalam tubuh. Akan tetapi, para ulama mempersyaratkan bekam dan donor darah tersebut boleh jika tidak membuat lemas.

[6] Mencicipi makanan asal tidak masuk ke kerongkongan
Dalilnya adalah perkataan Ibnu Abbas, “Tidak mengapa seseorang mencicipi cuka atau sesuatu dalam keadaan sedang berpuasa selama tidak masuk ke kerongkongan” (HR Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad), Ibnu Abi Syaibah, dan Al Baihaqi)

[7] Mandi dan menyiramkan air di kepala supaya segar
Dari Abu Bakr bin Abdurrahman beliau berkata “Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Araj mengguyur kepalanya dengan air dalam keadaan beliau sedang berpuasa –karena keadaan yang sangat panas terik- ” (HR Abu Dawud dan Ahmad, shahih).

JANGAN SIA-SIAKAN PUASA KITA KAWAN

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Rahman dan Rahim, puasa itu tidak semata-mata menahan diri dari makan, minum, dan syahwat. Puasa mencakup menahan diri dari perbuatan dosa dan kemaksiatan. “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga semata dari puasanya tersebut” (HR Ahmad,Ibnu Majah, dan Ad Darimi dengan sanad shahih).
Oleh karena itu, untuk menjadikan kesempurnaan pelaksanaan ibadah ini, kita perlu menghindari hal-hal yang dapat membatalkannya 

[1] Berkata dusta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perbuatan dusta malahan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh kepada rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR Bukhari). Dan sungguh hal ini masih banyak diremehkan secara sadar atau tidak sadar.

[2] Berkata sia-sia dan kotor
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Tidaklah puasa itu hanya sebatas menahan makan dan minum, akan tetapi puasa itu juga menahan diri dari berkata sia-sia dan kotor. Maka apabila ada seseorang yang mencela dan menjahilimu, maka katakanlah ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’” (HR. Hakim dan Ibnu Khuzaimah, shahih)

[3] Maksiat secara umum
Hendaknya seorang yang berpuasa meninggalkan seluruh perbuatan maksiat. Meskipun maksiat tersebut tidak membatalkan puasa, namun maksiat tersebut dapat mengantarkan pelakunya ke tingkat puasa yang paling rendah, yaitu hanya meninggalkan makan dan minum semata (Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif).

Disari dari: [1] Shifat Shaum Nabi karya Syaikh Salim Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan. [2] Matan Al Ghayah Wat Taqrib fil fiqhi Asy Syafi’i dengan ta’liq Majid Al Hamawi. [3] Panduan Ramadhan karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. [4] At Tauhid edisi VII/31 oleh Arif Rohman Habib

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

One thought on “RAMADHAN TERLALU INDAH UNTUK DISIA-SIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s