Posted in Ramadhan Ceria

JEJAK PERTAMA RAMADHAN


Alhamdulillah Ya Allah. Engkau sampaikan umur hamba hingga bisa bertemu dengan Ramadhan. Hari pertama yang penuh makna, perjuangan, dan kebaikan dari-Mu. Untuk kesekian kalinya, bisa merasakan Ramadhan di kota ini, Yogyakarta, adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Meski sedih rasanya mengingat tidak bisa bersama keluarga tercinta di rumah, sahur bersama, dan buka bersama. Tidak bisa mendengar ibunda tercinta membangunkan. Tidak bisa merasakan ngabuburit dan sholat jamaah bersama kawan-kawan di Surabaya. Begitu pun tidak bisa merasakan rangkaian RDK (Ramadhan di Kampus) . Allahu Akbar.

Hari pertama Ramadhan telah merangkai berbagai peristiwa. Betapa Ramadhan ternyata mempunyai efek luar biasa. Dalam sekejap langsung merubah kondisi masyarakat. Dalam sekali langsung cling, cling. Saya sempat geli ketika sholat dhuhur jamaah di masjid di tempat kerja praktek. Saya yang biasanya kebagian sholat baris pertama, tiba-tiba turun peringkat ke posisi nomer 3. Belum lagi jumlah jumlah jamaah menjadi membludag. Yang wanitanya banyak yang berkerudung (nah, gitu kan tambah cantik mbak ). Dan pasca sholat pun yang semula orang-orang habis sholat langsung meluncur ke kantin, sekarang banyak yang menghabiskan waktu di masjid. Mulai dari yang ngaji, diskusi, sampai tidur siang. Hihi. Berkah Ramadhan dan fenomenanya yang unik. Semua berusaha memaknai dan menyambutnya dengan caranya masing-masing.

Dan dialah Ramadhan, bulan yang misterius. Penuh makna, memberi banyak cerita. Setiap jamnya memberikan pengajaran yang berbeda. Terlebih ketika sholat tarawih hari ini. Banyak cerita yang diberikan oleh pak ustad.

Perjalanan walikota Yogyakarta ke Eropa membuka ceramah pak ustad malam ini. Ketika beliau sedang naik taksi di tengah malam, taksi berhenti di saat lampu stop-an berwarna merah. Beliau pun terkejut, dan bertanya, “Mengapa bapak berhenti padahal suasana sepi dan tidak ada siapa pun?”. Sang supir balik menjawab, “Karena kami konsisten dalam menaati peraturan yang dibuat. Peraturan ini dibuat oleh orang yang mewakili rakyat, mewakili kami. Sehingga kami pun harus taat”.

Belum selesai dengan keterkejutan pertama. Esoknya, walikota hendak berjalan-jalan ke suatu tempat. Beliau memilih menggunakan jasa kereta api harian. Fasilitas yang diberikan sangat nyaman di dalam kereta. Sepanjang perjalanan beliau memegang karcis sambil menunggu kondektur memeriksa karcis. Tapi yang dinanti tidak datang-datang. Heran, pak walikota bertanya dengan petugas ketika turun, “Disini tidak ada yang melakukan pemeriksaan karcis di kereta ya?”. “Benar pak, tidak ada,” sahut si petugas. “Oh, jadi, sebenarnya tidak ada masalah ya ketika seseorang tidak membeli karcis dong, kan tidak ketahuan”, balas pak walikota. Sembari tersenyum petugas menjawab, “ Benar, dan silakan saja. Tapi semua orang yang ada disini membeli karcis karena mereka ingin mendapatkan fasilitas. Pajak diperoleh dari karcis ini. Dan kami bisa teratur seperti ini karena konsistensi kami untuk membeli karcis meski tanpa perlu diperiksa.” .
Subhanallah.

Eropa yang negaranya notabene tidak banyak muslim yang bermukim disana bisa sedemikian teratur, taat, dan komitmen sadar hukum. Lain halnya dengan Indonesia, yang jelas-jelas banyak yang memeluk Islam. Islam yang mengajarkan keistiqomahan dalam menaati peraturan. Namun, entah hanya sekedar Islam KTP sehingga peraturan nampak ada untuk dilanggar. Aturan yang dibuat tidak jarang dibuat untuk kepentingan kelompok tertentu.

Maka, semoga Ramadhan ini menjadi pembuka pintu perubahan bagi tiap-tiap individu. Berubah untuk menjadi lebih baik, sami’na wa ato’na terhadap aturan-aturan yang ada dan mengatur tata kehidupan masyarakat. Apalagi aturan-aturan yang ada dalam Kitabullah. Negara lain saja bisa menerapkan nilai kejujuran dan ketaatan. Mengapa kita yang notabene muslim dan diajarkan nilai-nilai tersebut tidak bisa menerapkan?

Perubahan mungkin nampak berat. Berubah berarti meninggalkan zona nyaman kita. Dan mungkin tidak mudah. Tapi itu BISA dilakukan. Perubahan mungkin tidak harus langsung banyak orang. Perubahan itu dimulai bisa dari kita, dengan niat yang lurus karena Allah Ta’ala. Kemudian perubahan menjadi lebih baik itu akan dilihat oleh yang lain sehingga orang lain akan tertular virus kebaikan kita. Indah bukan? 

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

One thought on “JEJAK PERTAMA RAMADHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s