Posted in Catatan Naylaa

Media Mainstream VS. Media Muslim


Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat:6)

Ayat diatas merupakan dalil yang sangat jelas tentang penyikapan kita terhadap media-media massa ada ada disekitar kita saat ini. Kita sebagai umat Islam sudah diberikan bekal oleh Allah yang beruparules atau rambu-rambu dalam menyikapi fenomena-fenomena media sejak 14 abad yang lalu. Agar kita waspada. Agar kita tidak dibodohi. Agar kita tidak tersesat. Agar kita tidak begitu saja percaya terhadap berita atau kabar yang dibawa oleh orang-orang fasik.

Poin utamanya adalah bahwa kita, umat Islam, diperintah untuk meng-kroscek kebenaran dari berita tersebut. Tidak langsung percaya begitu saja. Tapi kita juga perlu tahu sampai pada perihal siapa yang membawa berita tersebut, dan berita apa yang dibawanya.

Dalam berbagai dalil al-Qur’an dan Hadits serta pendapat para ulama, orang fasik sering dipahami sebagai orang yang terlarang dalam memegang suatu amanah, jabatan atau hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan. Sedangkan profesi sebagai jurnalis atau wartawan di suatu media sangatlah membutuhkan kejujuran dalam menyampaikan kebenaran. Jika orang fasik yang memegang kendali dalam sebagian jurnalis media-media massa, maka sangatlah besar potensinya bagi mereka untuk menyimpangkan kebenaran. Fakta-fakta yang ada bisa dimanipulasi, ditutup-tutupi, direkayasa, demi kepentingan dirinya atau penguasa media.

Lalu bagaimana jika masyarakat mengkonsumsi kebohongan-kebohongan yang mereka sebut ‘fakta’ itu? Bagaimana jika mayoritas umat Islam di Indonesia ini menelan mentah-mentah berita-berita di media yang setiap hari mereka baca dan tonton di televisi?

Di dalam Islam, jika kita mau menilik kembali, betapa luar biasanya imam-imam ahli hadits dalam mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits tersebut. Dalam penyeleksian itu mereka memiliki banyak kriteria yang ketat untuk periwayat hadits, sampai akhirnya hadits itu bisa dikategorikan sebagai hadits yang shahih, hasan, dhaif atau maudhu’. Begitu telitinya ulama-ulama kita, sampai dalam suatu riwayat, pernah Imam Bukhari menempuh perjalanan untuk menemui seseorang yang dikabarkan dia meriwayatkan suatu hadits. Ketika sampai pada tempat orang tersebut, sang Imam melihat orang itu memanggil kudanya dengan cara melambai-lambaikan tempat makanan kuda yang kosong seolah-olah kuda tersebut akan diberi makan. Dia melakukan itu untuk ‘menipu’ kuda itu supaya mau memenuhi panggilannya. Apa yang dilakukan oleh Imam Bukhari? Melihat hal tersebut, Imam Bukhari langsung saja meninggalkannya! Hal itu dilakukan karena begitu ketatnya kriteria kredibilitas kejujuran seseorang dalam membawa hadits.

Sekarang, kalau mau jujur, tidak satupun wartawan/jurnalis media yang mampu memiliki kredibilitas seperti itu! Namun paling tidak, tidak boleh ada wartawan yang melakukan rekayasa terhadap kebenaran! Itu saja sebenarnya belum cukup, perlu juga diantara media-media tersebut memiliki wartawan-wartawan yang memegang teguh prinsip keimanan dan ketaqwaan. Ada semangat jihad yang menggelora untuk menyampaikan apa yang disebut sebagai kebenaran. Tanpa rekayasa. Tanpa kepentingan modal. Tanpa kepentingan politik tertentu. Tanpa niat lain selain karena Allah Ta’ala menyuruhnya berbuat sejujur-jujurnya.

Oleh karena itu, itulah kenapa, sering saya prihatin melihat minimnya dukungan umat Islam kepada media-media muslim yang jelas-jelas kredibel. Langganan media mainstream seperti koran, majalah, tv kabel, dan lain lain dianggap biasa, sedangkan membeli majalah bulanan milik kantor media muslim terasa berat sekali. Bukankah itu ironis sekali, saudaraku?

Para wartawan media muslim kita, telah banyak berjasa dalam mencari berita dan informasi. Pernah saya bertanya langsung bagaimana kinerja jurnalis muslim dalam suatu media berlabel Islam di Surabaya. Seorang diantara mereka menjawab bahwa tidak mudah menjadi jurnalis yang punya semangat jihad. Mereka sering mengistikharahi sumber-sumber beritanya agar diberikan petunjuk apabila sumber tersebut salah, kurang menjaga amanah atau kurang qualified maka segeralah ditunjukkan, lalu dibatalkan saja. Mereka juga benar-benar selektif dalam menentukan sumber-sumber yang akan diangkat profilnya. Jangan sampai salah orang. Semua itu mereka lakukan dengan diiringi do’a-do’a dalam setiap solatnya. Subhanallah…pantaskah pekerjaan mereka hanya kita hargai dengan nilai yang murah dan sedikit?

Mulailah menghitung-hitung porsi dukungan kita terhadap media lebih mengarah ke mana. Apakah selama ini sudah lebih banyak mendukung media muslim atau justru malah mengabaikannya dan merasa nyaman dengan mengkonsumsi media mainstream? Kita sendiri yang tahu, kita sendiri yang mengukur, kita sendiri juga yang mampu mengubahnya. (aa)

aditya Abdurrahman

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s