Posted in Memoar Perjalanan

Memoar Perjalanan Seorang Senior


Berbicara tentang marah pada topik sebelumnya, saya jadi teringat dengan seorang senior saya. Seorang kakak kelas dan dokter luar biasa. Luar biasa, karena ia mampu melakukan yang tidak pernah dilakukan manusia pada umumnya. Ya. Ia TIDAK PERNAH MARAH. Disamping bahwa dia sangat luar biasa di profesinya sebagai seorang dokter, pengemban dakwah, anak, dan kakak Pembina yang baik.

Ya, Mas Sutami Budi Fitriawan. Teman-teman biasanya memanggilnya dengan panggilan ‘Su’ut’. Saya pertama kali berkenalan dengan beliau ketika beliau menyapa teman-teman di sekretariat BEM. Dia pula yang memandu kami bermain sumpit kacang di awal perkenalan BEM ke mahasiswa baru. Dengan seulas senyum ramah, ia mempersilahkan kami bocah-bocah kecil tim 10 yang lugu tapi heboh untuk masuk ke markas BEM.

Sebenarnya bisa dibilang bahwa saya tidak pernah berbicara dengan dia. Karena, saat itu saya memang masih sangat pemalu dan suka sungkan. Tapi keramahan teman-teman membuat saya merasa nyaman. Terutama ketika menjadi panitia Gama Med Fair. Dengan kondisi sekret yang sempat kami buat awut-awutan. Mungkin terakhir kali kami bertemu adalah ketika event itu, setelah sebelumnya pelatihan kepemimpinan dasar bersama untuk junior.

Lama tak berselang, sepeninggal saya dari kampus biru. Hingga beberapa bulan yang lalu saya berselancar di dunia maya dan mata ini terpaku terus pada sebuah status teman. “Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Telah berpulang ke rahmat ALLAH, Sutami Budi Fitriawan hari ini”. Allahu Akbar! Sebuah pesan yang terlalu tiba-tiba. Di saat saya sedang berusaha keras mengingat memoar-memoar dan teman-teman lama. Sungguh terlalu tiba-tiba. Allahu Robbi.

Buat apa marah, jika tidak menyelesaikan masalah.” Begitulah kakak selalu kepada yang lain.

Kakak adalah inspirasi yang membuat teman-teman bergabung bersama dalam jamaah dakwah ini. Simbol atas kesederhanaan dan kesabaran dalam menghadapi yang lain. Dengan jas putih, teladan bagi professi dunia medis. Guru, sahabat, kawan, kakak yang menyelipkan kenangan emas dalam memori kami.

Di saat sakit pun, kakak masih ingin pergi ke magelang untuk membantu korban merapi disana, tidak mau mendengar nasehat teman-teman untuk mengurungkan niat, tetapi beuntung ayah ibu melarang, dan kakak bisa istirahat. Dan mungkin inilah bentuk cinta kakak terhadap dakwah, “Setiap profesi adalah mulia, jika memang niatnya tertuju kepada Allah, dan tugas kita, melakukan yang etrbaik pada setiap kesempatan itu”. Sebagaimana yang dikatakan Ust. Rahmat Abdullah yang lebih awal mendahului.

Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Memang kawan, Allah, kekasih abadi kita, telah merindukan kakak lebih dulu. Rindu untuk berkumpul bersama dengan para Sahabat Rasul yang lainnya. Dan jika pun kau tidak mendapatkan bidadari dunia, bidadari surga telah bersiap menanti.

Dan akhir ini kawan, memang cita citamu sesuai dengan apa yang telah kita lantunkan pada setiap pertemuan pekanan kita, melalui doa ini. Allah telah mewujudkannya.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada Mu, bertemu untuk taat kepada Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman da keindahan tawakkal kepada Mu. Hidupkanlah dengan marifah Mu, dan MATIKANLAH DALAM KEADAAN SYAHID DI JALANMU. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin. Dan, semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan semua sahabatnya.”

Suratan Tuhan kita disini menapaki cerita bersama
Cinta berkawan karna sehati dalam kasih illahi
Tepiskan hal yang berbeda agar kisahmu teramat panjang
Simpan rapi harapan berkawan selanjutnya
.”
(Ed Coustic-Cinta Berkawan)

Semoga Allah menerima amalan sholeh, dan mengampuni dosa mu, menjauhkan kakak dari neraka, dan memasukkan ke dalam Surga. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran oleh Allah Taala.

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s