Posted in Mengambil Teladan

PERJALANAN CINTA 4 STASE


Bismillahirrohmaanirrohiim .

Sebuah kisah yang menginspirasi, dari perjalanan hidup seorang dokter..

smoga bisa mengingatkan qt akan makna hidup .

jazakillahu khoir mba Resti atas share ilmunya .

Smoga bermanfaat . Uhibbuki fillah🙂

 

***

 

PERJALANAN CINTA 4 STASE

Oleh : Resti Yulianti Sutrisno

 

Cinta bagai ilham dari langit yang menerobos dada dan bersemayam dalam jiwa

Dan kini kami akan mati karena asmara yang telah melilit seluruh nurani

Katakanlah padaku : pemuda mana yang bebas dari penyakit cinta?

(Salim A Fillah dalam buku JCPP)

 

Cinta dan Cinta…. Berbicara cinta, sepertinya agak sensitif, apalagi umur segini (20-an tahun), usia dimana satu persatu teman mulai menikah. Banyak orang yang bilang kalau umur segini merupakan golden period untuk menggenapkan agama. Apalagi kalau bisa menikah dengan orang yang kita cintai. Tapi bagimana kalau ternyata orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Apakah dengan mudah akan menjawab, ya sudah cari saja yang lain. Di dunia ini kan masih banyak lelaki atau perempuan yang masih single. Yakin bisa bicara sepert itu? Atau justru yang ada kita akan berada dalam kesengsaraan yang berkepanjangan, merasakan bagaimana fraktura hepatika (red- fraktur=patah, hepatica=hati) itu semakin bermain, hingga akal yang waras pun menjadi kehilangan fungsinya. Beberapa kisah cinta dalam jenjang kehidupan yang berbeda sempat saya temui di 4 stase ketika saya menjalani profesi (kuliah praktik) di beberapa rumah sakit.

 

Sewaktu stase jiwa, saya selalu menemui anak muda yang masuk bangsal jiwa karena cinta. Tidak hanya di satu rumah sakit, bahkan tiga rumah sakit yang menjadi tempat rotasi klinik. Ketika saya di bangsal jiwa suatu rumah sakit daerah, ada seorang lelaki, dengan muka yang tidak lumayan lagi, tetapi dapat dikatakan tampan, bahkan setiap waktu selalu menyanyi dengan lirik berbahasa inggris. Heran juga, apa yang membuat lelaki ini menjdi penghuni bangsal jiwa. Secara luar, kurang apa coba, setelah saya baca rekam medisnya ternyata lelaki ini menjadi seperti ini karena ditinggal pacarnya. Pantas saja, setiap saya atau teman yang lain mencoba untuk mendekat pada lelaki ini, dia sangat cepat memegang tangan kita dengan erat seakan tak mau melepaskan dan berkata, “jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku, aku mau tetap bersamamu”. Ketika saya pindah ke rumah sakit lain, lagi-lagi saya menemukan anak muda yang masuk bangsal jiwa karena cinta. Bahkan kali ini adalah dua orang kakak beradik. Ketika ditanya apa yang membuat mbak masuk sini? Jawab pasien itu, “Adikku merebut pacarku”. Ketika ditanya pada sang adik, maka jawabannya adalah sebaliknya, “La kae mbakku ngrebut pacarku” (red-Itu kaka saya merebut pacar saya). Bayangkan dua orang kakak beradik mengalami gangguan jiwa karena rebutan pacar. Atau yang lebih menyedihkan lagi, ketika saya jaga di salah satu Rumah Sakit Jiwa di Yogyakarta, saat itu ada seorang wanita yang sangat histeris ketika akan dimasukin ke salah satu bangsal isolasi rumah sakit tersebut. Perempuan itu selalu meronta-ronta tidak mau dimasukkan ke bangsal tersebut dan ingin pulang, dia selalu berteriak “aku ora edan, aku emoh bareng karo wong-wong edan kae.. kae delok tatapan e, mereka menatapku aneh, mereka semua gila, aku mau pulang.” (red-saya tidak gila, saya tidak mau bersama orang-orang gila itu, lihat tatapan mereka, mereka menatapku dengan aneh, mereka semua gila, saya ingin pulang). Pasien ini cukup menarik perhatian saya, kemudian saya mencoba melihat rekam medisnya, ternyata riwayat kekerasan terhdap orang tua dan diri sendiri, suka memukul orang tua, dan mengalami halusinasi suara (beiau sering mendengar suara yang menyuruhnya utntuk bunuh diri menabrakkan diri ke pohon atau untuk memukul orang lain termasuk orang tuanya, padahal sebenarnya suara itu tidak ada). Setelah agak tenang, saya mencoba mendekati dan mulailah obrolan-obrolan dengan pasien tersebut. Sebut saja mbak Z, seperti biasa, saya mencoba untk membangun trust pada beliau, hingga beliau merasa nyaman untuk berbicara dengan saya, kemudian saya memancing beliau supaya menceritakan apa yang membuat beliau dibawa ke sini. Saat itu dia menjawab, “Saya dibawa ke sini karena saya mukulin kedua orang tua saya mbak, saya juga beberapa kali mau bunuh diri nabrak ke pohon”. Kemudian saya tanya, “apa yang mendorong mbak Z melakukan itu semua?”, beliau menjawab, “Saya ditinggal lelaki yang pekan depan akan tunangan dengan saya, mendadak lelaki itu sms, –aku yakin kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari aku-, dan sejak itu lelaki itu tidak pernah muncul lagi”. Di akhir pembicaraan, mbak Z balik bertanya pada saya, “Coba kalau mbak resti jadi saya bagaimana perasaan mbak resti?… pasti sedih kan??? Saya sangat mencintainya mbak, saya ingin hidup selamanya dengan dia. Padahal selama ini saya melihat dia sebagai lelaki yang sangat baik dan saya yakin saya akan bahagia dengannya, tetapi mengapa dia tega meninggalkan saya sendiri mbak???

 

Melihat tiga kisah tersebut, ternyata cinta benar-benar bisa membuat orang terganggu jiwanya. Semakin menyadari bahwa statement itu memang realita, selama ini kurang percaya, kalau masalah cinta benar-benar bisa membuat otak yang waras menjadi sedikit terganggu bahkan sampai harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Beginilah cinta, berapa jiwa menjadi lemah dihadapannya, apalagi ketika kita menempatkannya pada posisi yang tidak tepat. Seperti yang diungkapkan oleh Anis Matta dalam serial cintanya, “Kita lemah karena posisi jiwa kita yang salah.”, atau lebih jelasnya, “Kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak –atau tak boleh kesempatan-, untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan.” Kita menderita bukan karena kita mencintai. Dan mungkin bukan karena cinta itu sendiri. Tapi karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan. (Salim A Fillah dalam buku JCPP)

 

Cinta yang sehat bukanlah cinta yang melahirkan nestapa jiwa apalagi nestapa dunia akherat. Cinta yang sehat mendidikan kecerdasan, kematangan emosi, ketenangan hati, dan kedewasaan berpikir. Ia mengajarkan kesabaran menahan syahwat atau membingkainya dalam ikatan suci yang diridhoi. Cinta yang sehat belum menuntut apa-apa, jika belum ada ikrar halal atasnya. Boleh jadi engkau merahasiakan rasa simpati dan ketertarikan. Tetapi tetap saja penyakit namanya kalau orientasi ke depanmu hanya si dia. Maksudnya kala engkau mendikte Alloh bahwa dialah yang pasti jadi jodohmu. Lalu bukannya engkau meminta yang terbaik dalam isthikarahmu, tetapi benar-benar mendikte Alloh :  Pokoknya harus dia Ya Alloh.. Pokoknya harus dia!! Kalau begitu caranya, seolah engkau yang menentukan segalanya. Kalau engkau meminta dia “dengan paksa”, lalu Alloh memberikannya padamu,  kiranya kau bisa menebak itukah yang terbaik untukmu? Tak selalu, bisa jdi Alloh tak mengulurkannya dengn kelembutan, tetapi Ia melemparkannya dengan marah karena niat yang terkotori. “.. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Alloh Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mnegetahui.” (Al Baqarah : 216)  (Salam A Fillah dalam buku NPSP).

 

Lain lagi kisah sewaktu stase maternitas (obsgyn/kandungan). Di sebuah bangsal ginekologi, ada salah seorang pasien yang menderita kanker ovarium, perutnya membesar dan badannya sangat kurus, seperti hanya tulang yang terbungkus kulit saja. Dalam dirinya terlihat efek dari kemoterapi yang dijalaninya, kulit tubuh yang kehitaman seperti terbakar, rambut rontok, hampir semua kuilt kepalanya terlihat, sariawan, dan sering mual muntah. Pertama kali masuk ruangan itu saya sempat kaget melihat sosok wanita yang tak berdaya tersebut. Apalagi beliau sangat rewel dengan beragam permintaan aneh-aneh dan keluhannya. Ya wajar, itu karena sakit yang dialaminya. Di ruangan itu, selalu ada sosok lelaki yang dengan sabar menemaninya, mendengarkan semua kerewelannya, memenuhi kebutuhannya. Tadinya saya sempat mengira bahwa lelaki yang gagah, putih, dan lumayan tampan itu adalah suaminya. Ternyata bukan, dia adalah calon suaminya.. Dan yang lebih mengagetkan adalah kisahnya. Suatu hari atau lebih tepatnya hari kedua saya merawat beliau, tiba-tiba ada seorang anggota keluarga yang bercerita. Sebut saja mbak X (nama pasien tersebut), sebenarnya beberapa tahun yang lalu, satu pekan sebelum dia menikah, dia sakit dan harus mondok di rumah sakit, kemudian terdiagnosa kanker ovarium. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pernikahan diundur sampai kesembuhan beliau. Tapi ternyata Alloh pun tidak mentakdirkan mereka untuk bersama dalam sebuah ikatan agama. Di hari terakhir saya jaga bangsal tersebut, mbak X dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Innalillahi.. Bayangkan, 1 pekan lagi menikah, ketahuan kanker ovarium, kondisi terus melemah, dia harus menjalani raat inap untuk menegakkan diagnmosa penyakitnya dan menjalani kemoterapi dan akhirnya meninggal. Ya, skenario Alloh siapa yang tahu.

 

Kalau tadi cerita satu pekan sebelum menikah, maka di stase ini bercerita kisah pengantin baru. Satu pekan setelah menikah. Sewaktu itu saya jaga di bangsal syaraf. Ada seorang pemuda yang dirawat disana, sebut saja mas Y. Ketika saya merawat beliau, tiba-tiba ibu pasien cerita pada saya, beliau ini pengantin baru, belum ada satu pekan. Bahkan besoknya mau boyongan ke besan. Tapi mendadak demam tinggi, menggigil, kemudian oleh keluarga dibawa ke rumah sakit ternama di Jogja. Dan harus mondok. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata beliau ini dicurigai sebagai penderita HIV/AIDS. Karena dari gejalanya dan ada riwayat pengguna obat-obatan (red-narkoba dengan jarum suntik). Saat itu, dokter menjelaskan kepada istrinya. Seorang wanita yang cantik dan yang kulihat istrinya menangis. Dapat ditebak, sepertinya sang istri sedang diberitahu tentang kemungkinan penyakit suaminya yaitu HIV/AIDS. Sang istri sedang diminta persetujuan untuk pemeriksaan mengenai HIV/AIDS. Dapat dibayangkan bagaimana sedihnya, seorang pengantin baru karena harus dicoba dengan sakitnya suami yang bukan penyakit ringan.  Yang lebih mengagetkan lagi, 3 hari setelah saya tidak lagi jaga di bangsal tersebut, saat itu saya melewati sebuah jalan di dekat rumah sakit tersebut. Ada bendera putih dan papan pengumuman lelayu atau orang meninggal. Di papan tersebut tertulis nama orang yang meninggal, saat itu rasa penasaran saya membuncah, tiba-tiba teringat pasien saya yang di bangsal syaraf itu, karena ini adalah area rumahnya, kemudian kucoba melihat lebih dekat tulisan itu dan siapakah dia, ternyata mas Y. Nama, umur, dan alamat rumahnya persis dengan pasien yang saya rawat di bangsal syaraf itu. Innalillahi wa innailaihi roji’un… tidak terbayang sedihnya sang istri dari pengantin baru ini.

 

Terakhir, ingin bercerita saat Stase Gawat Darurat (Gadar), ketika saya jaga di ICU salah satu rumah sakit ternama di Yogyakarta, disana kematian terasa begitu dekat. Semakin menyadari bahwa orang-orang yang kita cintai pasti akan meninggalkan kita. Beberapa kali saya jaga disana, beberapa kali pula saya menjumpai kematian. Saat itu, saya jaga malam, sedikit dihebohkan oleh keramaian suasana ICU, ketika ada pasien yang datang dengan kondisi buruk, semua alat bantu dipasang… bunyi tiit… tiit… khas peralatan ICU pun nyala. Ternyata, pasien yang baru ini adalah seorang ibu dengan eklampsia berat, dan juga baru saja melahirkan anak ketiganya. Tentu, bagi pasangan ini, hal yang sangat membahagiakan karena mereka dikaruniai anak ketiga. Alhamdulillah sang bayi kabarnya sehat. Semua keluarga pasti bahagia, tetapi ternyata si ibu mengalami eklampsia berat sehingga harus dirawat di ICU dan akhirnya sang ibu meninggal setelah dirawat beberapa hari. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana perasaan suaminya, antara bahagia dan sedih. Bahagia karena telah lahir anak ketiganya. Tetapi sedih juga karena saat itu pula ia harus kehilangan orang yang sangat dia cintai, yang dengannya dia akan membesarkan ketiga anaknya. Tetapi Alloh ternyata punya skenario lain, istrinya sudah pergi dulu meninggalkannya selamanya.

 

Satu pekan sebelum menikah, satu pekan setelah menikah, dan beberapa tahun setelah menikah bahkan hingga memiliki anak ketiga. Akhirnya berada pada kondisi yang sama, ditinggal selama-lamanya oleh kekasih yang ia cintai. Cinta dan cinta, sungguh tak pernah tahu kapan itu akan berujung dan dengan siapa itu akan tergapai serta kapan akan berpisah. Cintailah siapapun, tapi kau pasti berpisah dengannya. Kalimat ini menyentakkan sebuah kesadaran, bahwa sehatnya cinta mutlak agar tiada penyesalan, kecewa, dan nelangsa dalam hidup yang singkat ini.  (Salim A Fillah dalam buku NPSP). Hal ini seperti yang disampaikan dalam Hadist Riwayat Ath Thabrani, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu tapi kau pasti mati. Berbuatlah sekehendakmu tapi kau pasti dibalas. Dan cintailah siapapun yang kau mau tapi engkau pasti berpisah dengannya.” 

 

Berbicara cinta itu artinya berbicara titik ikhlas. Di sini kita benar-benar di uji di titik ikhlas. Sesuatu yang menjadi hak kita pasti Alloh akan beri  tapi kalau sesuatu itu bukan hak kita, mau mati-matian kita memperjuangkan atau itu nyaris menghampiri kita, ya Alloh tetap tidak akan beri. Sedangkan di satu sisi, perpisahan itu pasti, cepat atau lambat, orang yang kita cintai itu pasti akan meninggal. Entah dia sempat menjadi milik kita ataupun tidak. Bisa jadi berpisah dengan cara meninggal, atau dia menikah dengan orang lain. Yang pasti suatu saat nanti orang yang kita cintai pasti akan pergi dari sisi kita, semua itu hanya masalah cara dan waktu, dimana setiap orang akan mengalami dengan cerita yang berbeda.

 

Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,

Maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta

padaNya,

pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki :

selamanya memberi yang bisa kita berikan,

selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

-M. Anis Matta-

 

 

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

 

Author:

.: Even though there is no one understand, you still have Allaah. You still have places for sujood :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s